Kening Hitam
Penulis : Zaenal Radar T.
Kau tentu pernah bertemu dengan lelaki berkening hitam. Hitam tidak secara keseluruhan, melainkan hanya pada bagian kening tengah atas di antara dua alis, persis dibawah ujung rambut bagian depan. Tepatnya, bagian kening yang digunakan untuk mencium sajadah setiap kali solat.
Apa yang kau pikirkan ketika melihat lelaki berkening hitam seperti itu ? Tentu kau akan berkesimpulan, bahwa lelaki tersebut adalah lelaki yang alim, lelaki yang rajin mencium sajadah, lelaki yang tak pernah meninggalkan solat lima waktu, lelaki yang rajin bangun malam-malam untuk tahajud dikala orang lain molor di tempat tidur.
Lelaki berkening hitam tidak hanya ditemukan di masjid-masjid. Kau bisa menemukan di kampus, di kantor, pasar tradisional, kantor pos, bahkan mungkin di mal-mal. Bisa jadi dia seorang dosen, kyai, mahasiswa, pedagang, sopir angkutan kota, atau profesi lainnya.
Dan tahukah kau, malam ini, Markum, seorang pelajar berotak pas-pasan sebuah SMA swasta di Jakarta, saat ini tengah memikirkan keningnya yang tidak hitam. Markum bingung luar biasa. Bukan apa-apa, belakangan ini dia tak pernah meninggalkan solat lima waktu. Dia selalu mengerjakan solat sunat, baik sunat bakdiah maupun sunat qobliah. Bahkan, setiap kali solat, Markum sengaja menekan-nekan bagian ujung keningnya supaya bisa hitam. Namun, tetap saja tidak pernah menjadi hitam.
Kau tentu paham maksudnya. Markum ingin sekali punya kening hitam, seperti kening lelaki berkening hitam yang ia temukan di berbagai tempat. Keinginan punya kening hitam ini bermula ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Elliza. Elliza adalah gadis cantik berkerudung, putri tunggal seorang guru agama di sekolahnya. Hanya saja, Elliza bersekolah di ibtidaiyah.
Pertemuan Markum dengan Elliza terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu Markum mengantar Pak Habiburahman Saerozi, guru pendidikan agama Islam lulusan Mesir yang tak lain wali kelasnya, pulang dari mengajar. Pak Habib menyuruh Markum mampir sebentar untuk minum.
Markum, dengan senang menuruti kemauan Pak Habib yang baik hati. Saat itulah Markum melihat Elliza, yang membawa minuman untuknya. Pak Habib pun memperkenalkan Markum pada putrinya itu, dan juga keponakan laki-lakinya, serta istrinya. Istri Pak Habib perempuan Mesir. Berwajah Arab dengan hidungnya yang mancung. Wajah Elliza mirip sekali dengan ibunya.
Saat bertemu itulah Markum merasa tertarik ingin menjadikan Elliza seorang teman dekat. Tetapi tentu tidak mudah mewujudkan keinginannya itu. Markum pun melakukan berbagai usaha. Di antaranya adalah, menjadi cowok yang alim. Cowok yang tekun ibadah.
Kau tentu sulit membedakan, siapakah di antara anak-anak lelaki yang rajin ibadah atau tidak? Dan Markum berkesimpulan, bahwa lelaki yang bisa disebut alim adalah lelaki yang rajin solat. Lalu, bisakah orang lain menentukan apakah seorang cowok seperti dirinya rajin solat atau tidak. Hmmm… lihat saja keningnya!
Markum selalu membayangkan seandainya keningnya bisa menjadi hitam, seperti seoarang lelaki yang rajin solat. Pak Habib, guru agamanya yang sangat baik hati itu, keningnya hitam. Keponakan laki-laki Pak Habib, keningnya juga agak hitam. Kenapa kening Markum tidak bisa hitam?
Selain berkening hitam, masih menurut Markum, lelaki yang bisa dicirikan sebagai orang alim, adalah lelaki yang berjenggot. Tetapi janggut Markum tak tumbuh jenggot. Licin. Seperti kepala profesor yang botak. Seandainya jenggotnya lebat, ditambah lagi keningnya menghitam, oh… Markum pasti akan senang sekali. Sayang beribu-ribu sayang, semua itu hanya mimpi.
Untuk mewujudkan keinginannya, Markum pun berencana melakukan berbagai cara. Salah satunya, setiap malam, Markum akan menempelkan jidatnya di lantai, dengan kedua kaki berada di posisi atas, menempel di tembok. Namun untuk melakukannya tidak semudah yang dibayangkan. Masalahnya, orang-orang rumah selalu iseng bertanya padanya, mengapa ia melakukan hal itu.
”Bang Markum, Abang lagi ngapain?” tanya salah satu adiknya, ketika Markum mulai menempelkan keningnya di lantai, dengan posisi kedua kaki menempel di dinding.
Markum pun menjawab, bahwa ia sedang olahraga senam.
”Senam apa?!!”
Senam apa? Markum jadi bingung. Tapi Markum tidak hilang akal, ”Ini namanya senam keseimbangan!” jawabnya kemudian. Adiknya yang bertanya mengangguk-angguk. Di kemudian hari, setiap kali Markum melakukan hal yang sama, yakni ’senam keseimbangan’ itu, adiknya latah ikut-ikutan.
Setelah kurang lebih dua minggu melakukan kegiatan seperti itu, tidak disangka-sangka, kening adiknya menjadi hitam! Boleh jadi, kening itu sering menempel di lantai, menjadi tumpuan beban tubuhnya yang berada di atas saat melakukan gerakan senam asal-asalan itu.
Meskipun begitu, tidak bagi Markum. Kening Markum ya tetap begitu-begitu saja. Tidak hitam sama sekali seperti kening adiknya. Mengetahui keningnya menjadi hitam, adiknya menjadi marah pada Markum.
”Bang, ini kening Markam kok jadi item?” protes Markam, adiknya Markum.
”Salah kamu sendiri! Kenapa ikut-ikutan senam itu?”
”Wah, gimana dong, Bang? Markam jadi malu nih…”
”Biarkan saja. Nanti juga hilang sendiri!”
Benar saja, setelah tidak lagi melakukan senam itu, kening Markam tidak jadi hitam. Tapi aneh bagi Markum, meskipun masih melanjutkan gerakan-gerakan senam itu keningnya masih juga belum hitam.
Suatu malam, saat tengah sendirian di kamarnya, Markum pun menatap keningnya di cermin, sambil tangannya memegang pisau dapur. Apakah yang hendak Markum lakukan??!
”Kenapa keningku masih tetap nggak bisa hitam?” tanya Markum pada dirinya sendiri.
Markum meraba-raba ujung keningnya itu, membayangkan seandainya bisa menjadi hitam. Lalu ia tatap pisau di tangan kanannya, dan menempelkannya di kening. Rupanya, Markum berniat untuk melukai keningnya dengan pisau, agar menjadi luka. Dengan begitu, kemungkinan kening menjadi hitam bisa terwujud dari luka keningnya nanti. Demikian pikir Markum.
Belum sempat melukai keningnya, Ibunya membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, membuat Markum terkejut.
”Markum! Kamu lagi ngapain?”
”Eee… eee….” Markum gugup. Ibunya menatap pisau dapur di tangan Markum dengan tatapan menyelidik.
”Bu, Markum lagi mencukur jenggot…” ucap Markum kemudian, sambil mengarahkan bagian pisau yang tajam ke dagunya. Ibunya bertambah bingung.
”Cukur jenggot? Memangnya kamu punya jenggot?!”
”Baru mulai tumbuh, Bu.”
”Kalau kamu mau mencukur jenggot, kenapa nggak pakai cukur jenggot Ayah?”
Markum terdiam, lalu menurunkan pisaunya.
”Tunggu sebentar ya, akan Ibu ambilkan.”
Ibu Markum keluar. Tak lama kemudian ibu Markum sudah kembali sambil memberikan alat cukur pada Markum. Setelah itu ibu Markum keluar lagi. Markum memegangi alat cukur jenggot itu, lalu menatap wajahnya di cermin sambil menempelkan cukur jenggot ke dagunya. Apa yang akan ia cukur, sementara dagunya tak tumbuh jenggot?
Pekan berikutnya, ketika keningnya masih belum bisa jadi hitam, Markum mendapat undangan dari Pak Habib. Pak Habib mengundang Markum berkenaan perpisahan Pak Habib yang sudah tidak lagi mengajar di sekolah Markum. Pak Habib pindah mengajar di sekolah lain.
Ini merupakan kesempatan emas buat Markum. Markum merasa menjadi sangat terhormat. Markum tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sebelum berangkat ke rumah Pak Habib, Markum mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Pikir Markum, di rumah Pak Habib nanti, Markum tidak hanya bertemu dengan Pak Habib saja. Ada istrinya, sepupunya, dan tentu saja putrinya yang cantik, Elliza!
Markum berpikir keras bagaimana ia bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aha! Markum punya akal. Markum yakin usahanya kali ini tidak akan gagal, yakni bagaimana membuat keningnya menjadi hitam. Kening seorang laki-laki alim. Markum meraih spidol di meja belajarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Markum memoles keningnya dengan spidol itu. Hitam!!
Kini kening Markum benar-benar hitam, layaknya kening laki-laki yang rajin solat! Dengan bangga, Markum pun segera berangkat ke rumah Pak Habib. Tak peduli orang-orang di rumah pada keheranan, Markum dengan percaya diri siap menghadapi undangan Pak Habib dan keluarganya.
Di rumah Pak Habib, Markum disambut dengan ramah. Menurut Markum, keluarga Pak Habib tidak bersikap aneh seperti orang-orang di rumahnya, soal keningnya yang hitam. Markum duduk di dekat Pak Habib, di antara sepupu Pak Habib, istrinya, dan Elliza. Mereka bercakap-cakap seputar kehidupan dan kegiatan masing-masing.
“Keluarga Pak Habib sekarang sudah tahu, bila keningku ini hitam,” ucap Markum dalam hati, ketika tengah bersama-sama keluarga Pak Habib.
Betapa bangganya Markum, memperlihatkan keningnya yang hitam di depan Pak Habib sekeluarga. Pasti Pak Habib dan keluarga sekarang tahu, bahwa dirinya lelaki yang alim, karena berkening hitam.
Menjelang maghrib, sebelum makan malam, Pak Habib mengajak semua orang untuk solat maghrib. Dengan semangat empat lima, Markum bangkit dan segera mengambil air wudlu. Ini pertama kalinya bagi Markum, solat berjamaah dengan keluarga Pak Habib.
Saat selesai mengambil wudlu, Markum merasakan sesuatu yang aneh. Air di lantai kamar mandi menjadi hitam. Markum mendapati telapak tangannya juga hitam. Markum menatap wajahnya di cermin kamar mandi, dan keningnya yang tadi hitam perlahan luntur. Markum mengusap keningnya. Tidak lagi hitam!
Markum pusing, karena saat itu ia tidak akan mampu mengembalikan hitam di keningnya. Markum kebingungan. Bila kau menjadi Markum, tentu kau juga akan bingung. Tapi aku yakin, kau tentu tak akan bertindak sebodoh Markum.
Dan tahukah kau, siapakah Markum sesungguhnya? Markum tak lain adalah aku!
Mengingat kejadian itu, aku suka tersenyum sendiri. Aku tidak mau menceritakan bagaimana sikap Pak Habib dan keluarganya waktu itu, setelah melihat aku tak lagi berkening hitam. Aku malu menceritakannya.
Kau tak perlu risau, sekarang aku sadar. Aku tak harus berkening hitam. Tetapi aku semakin rajin solat. Hanya Tuhan yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda pada diriku, atau terlihat oleh manusia lainnya, bahwa aku lelaki yang sering mencium sajadah, baik siang maupun tengah malam.
Pamulang Barat, Banten, 22 Maret 2006.
Diambil dari Majalah Annida, No. 12/XV/15 Agustus – 15 September 2006.
Simak cerita-cerita menarik lainnya di Majalah Annida “Cerdas, Gaul & Syar’i”.
tipikal orang indonesia :
judge a book by its cover!
warisan sistem pendidikan dan tata nilai yang sudah mendarah daging
untung di akhir si markum sadar,
kalo’ ndak kan gawat
ujub dan riya’ seumur hidup,
like most of indonesians…
aduh oon banget sih markum
bisa nya semua yg didengar ditelan mentah-mentah
ga bisa bayangin kalo keterusan
bener kadang orang liat sesuatu itu dr yg tampak
tapi ga semuanya benar
yang bener aja kayak gitu ditiruin!!! kepikiran nggak sih? kalo orang rajin shalat tu belum tentu keningnya item!!! kan harusnya malah tambah putih bersih…coz kena air widhu terusss. jangan sampe deh Markum jadi bahan fotocopy orang………L-) =))=))
wah cerita yang menarik ini..
bukannya apa-apa tapi cerita diatas mencerminkan kita sebagai orang indonesia yang selalu bangga terhadap dirinya sendiri tanpa bisa melihat apa yang dilakukanya terhadap orang lain dan untuk semua yang baca cerita diatas pasti dapat sesuatu pengertian yang menarik bahwa hidup itu tidak semudah seperti bayangan kita…
allah allah allah
cerita yg menarik..temen2 sma ku dulu jg pada berkening hitam tp kok aq ga, ya aq kembalikan aj ma allah toh tanda itu pasti ada maksudnya,,,dan aq pernah baca hadist klo nanti di hari kiamat orang2 yg sholat tuh akan ditampakkan oleh allah melalui tanda tanda yg ada ditubuhnya tp tidak disebutkan klo “kening hitam”, waallahualam
wah kayaknya gwe pernah nonton cerita yang sama di tv (dibaca: tipi) cuma itu karena si ‘markum ke2′ iri sama temennya yang punya kening hitam.
lucu kok!
asyik lagi!
ini cerita luw yang di publikasiin di majalah?
aduuuuh parah uey…
markum…markum… loecu bgts siih loe…
tp gppp lah yg pntg skrg lo dh sadar..
truzz elliza gmna tuh kumm…????!!
salah, cerita ini bukan cerita cinta, harap cerita ini ditarik dari pasaran
ada lagi yg ngomong lelaki perkasa dilihat dari tangannya yg gede
nah skarang lelaki alim di lihat dari jidatnya yg item.
tp menurut gw. dan yang paling bener orang pintr dilihat dari kacmatanya yang tebel,
dan orang yang paling unik, ialah orang ngetawa’in komentar diatas
ibadah akan terima bila ikhlas dan sesuai tuntunan nabi. klu riya’ pikirkan aja sndiri? gituu aja pusing!!!!!
kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen
[...] Posted on August 15, 2008 by storysecrets Kening Hitam Penulis : Zaenal Radar [...]
Ping balik oleh Kening Hitam « Story Secrets’s Weblog | Agustus 15, 2008 |
kalo yang kening nya item mah itu tanda orang yang sering shallat
weheehehee lucu critanya,,, bikin aku bisa ketawa lagi padahal hari ini lagi ga pengen ketawa……..makasi makasi
kesolehan emang gak selalu bisa dibuktikan secara fisik , cerita lucu penuh hikmah …
markum si oon…untng ja sadar sblum ajal tiba…
itulah jelek’y jadi orang oon(bodoh)..bahkan segala sesuatu keburukan itu asal’y dari kebodohan ssorg..kefasikan,kedholiman,kemungkaran,kemusyrikan,,rata2 berawal dari kebodohan n’ ketidak tahuan ssorng..
Woi.. cerita ni bikin aku pengen ketawa. Jadi inget temen2 cewek sekelasku yang pernah mbahas hal tersebut. He..he..
jadi tertawa baca nih cerita..
jangan melakukan suatu ibadah hanya karena ingin dinilai oleh manusia sebagai seseorang yang rajin beribadah atau alim istilahnya…hati2 riya’ mengintai lho!!!
hohohoho…waduwh..
niatnya bukan karena Allah..
cahaya iman it pancarannya ga bisa dibuat-buat..
ya allah..
markum,markum,, kok bisa yah ada orang sepolos kamu..
TibA2,bacA cerita ini rha jadi ingat sebuah kalimat pepatah seorang alim..”lebih baik mulia dimata Allah dari pada dimata mahlukNya.”
bener gak kum?
Waduh…Markum…!
Oon ma polos beda tipis tau…
Lo termasuk yang mana???
idiih nie orang ada aja ide naa…
klo bisa tiap bulan donk buat artikel
jadilah drmu sendiri..karna org lebih suka dgn kejujuran..
jangan salah paham dulu…orang berkening hitam itu bisa jadi sajadahnya kotor karna lama tak dicuci..
ada jutaan muslim yg shaleh tapi gak bisa dilihat kealimannya dari kening aja..
disisi lain, kening hitam juga salah satu tanda-tanda kematian menurut Islam..
wah kisah hidup yang bagus dan memiliki pesan moral yg berharga tinggi akhir`a markum tau kalau ingin menjadi anak yg alim tdk prlu pnya kening hitam tapi cukuplah dengan melaksanakan sholat saja
tidak perlu repot2 dgn usaha`a yg sia2 itu
parah banget….
Aq jd ketawa bca crtanya..he he2x
Aduh kalo pengen keningnya hitam ibadahnya harus dari hati dong jangan niatnya karena seorang gadis ….
tapi bagus juga ceritanya bikin orang sadar …
hihihi
cerita’a lucu . . .
dulu aku udah pernah baca , , , ,
tapi aku lupa , , ,
baca’a diman ya ????
Hahaha
Lucu…lucu…lucu
Ga bs brenti ktwa trus..
Cukup menghbur dsmpg + pngetahuan..
Wkakakak…lucu..sambil senyum sndiri bacanya,^+^ semoga cerita ini mengingatkan markum yg lainnya.
ha ha ha ha……mas markum kok gak sekalian di jedotin ke tembok ,,,,,uhhuiiiiiiii,,,,, memang cinta bisa membuat orang aneh,, aku punya teman yg memelihara anjing,anjingnya galak banged trus da cwok yg suka ma tmanya aku, dia mengeluarkn ide gila tuk memancing si anjing biar bisa dekat dengan nya so pasti tujuan nya tuk my best friend, dia merebus celana dalamnya bersamaan dengan daging,n so pasti bau daging,dngn pede nya datang n anjing itu mencium cium celana jeansnya karna mencari bau tersebut , dia senang banged couse si dog da sayang ma dia gto loh ,lagi keasyikn ngobrol eeeeeee sumpretttt to do point a dog menggapai celana dalam nya ha ha ha …..akhirnya yg merasakn nikmat tu si doggy he he he ….! Kasihan de looooooo bego
hHhHhaaa dasdor anak ingusan!!!
payah!
Aku suka tulisannya, apalagi dengan polosnya anak itu.
tapi cinta disitu positif dan jauh sekali dengan cinta remaja tahun2 terakhir ini! membuat markum menjadi lebih rajin beribadah dan sholeh
asw..
Sip lah critanya . . .