Cerita Cinta

ingin selalu mencintai dan dicintai karena-Nya

Be My Valentine

Penulis : El-Syifa

 

“Tell me whom you love and

I will tell you who you are

            Will you be my valentine?”

Meti meremas secarik kertas tanpa dosa di genggamannya. Tulisan cantiknya yang mengisi ruang kecil lembaran putih itu berkerunyut kusut. Valentine! Valentine! Huh! Kapan dia akan mendapat memo cinta seperti itu dari seorang pangeran impiannya? Seperti Rosa, seperti Pupuy, Lula, atau Sarah. Mereka semua sudah punya pacar dan segudang rencana menjelang hari kemerdekaan cinta, 14 Februari itu. Bahkan, sejak minggu-minggu ini, sebelum angka-angka di kalender Januari menunjuk nilai tertinggi.

Memang, di antara lima sekawan, bukan dia sendiri yang belum punya pacar. Pupuy dan Lula masih sorangan wae dan mereka menikmati kesendirian mereka. Tapi, untuk hari Valentine nanti, mereka sudah punya pasangan untuk teman ngedate di pesta-pesta romantis milik orang-orang yang penuh cinta. Itu istilah mereka. Sementara Meti? Gadis itu melirik sosoknya di kaca etalase toko buku megah itu. Separah apa wajahnya hingga tak ada seorang pun pria berminat padanya? Untuk sehari saja sekalipun. Dada Meti menyesak.

Kotak empat persegi yang dipenuhi kartu-kartu bergambar hati dan merpati berwarna pink di depan pintu utama berjubel pengunjung. Semua hampir gadis-gadis belasan tahun. Meti berjalan menghindar.

“Nah, lho, ketangkap sekarang!”

Jantung Meti berdebam-debam seketika. Menghentak-hentak dadanya. Wajahnya memucat tanpa setetes darah mengisi pembuluh di muka bulatnya itu. Dua gadis semampai berseragam abu-abu putih berdiri di hadapannya. Terkikik dengan tawa khas mereka. Rosa dan Pupuy.

“Mau cari kartu, ya? Bocoran buat bikin janji, ya? Sama siapa? Ronnie?” selidik Pupuy antusias. Cengirannya melatari semua pertanyaan interogasinya itu.

”Wah, iya, pasti Ronnie, nih! Dengar-dengar dia belum ada gandengannya, tuh! Ayo, dong, Met, nanti keduluan orang tahu rasa, lo!” Rosa mengompori.

”Apaan, sih!” tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini tensi Meti memang cepat sekali melonjak. Meggelegak berbusa-busa. Persis air mendidih bersuhu seratus derajat celsius yang bisa mematikan kuman-kuman. Terlebih jika itu menyangkut Ronnie.

”Marah, nih, ye! Ingat, lho, valentine gak ada istilah ngomel, musti sayang-sayangan. Termasuk sama temen. Tul, kan, Puy?” Rosa tersenyum dikulum. Sebelah matanya berkedip nakal.

”Valentine apaan, aku nggak ngenal, tuh, budaya barat jelek kayak gitu. Nggak ada manfaatnya lagi,” cetus Meti ketus.

”Siapa bilang jelek? Asyik lagi! Kita bisa bebas mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang tanpa rasa malu atau bersalah. Hari itu, kan hari kasih sayang. Kasih coklat, kasih bunga, pokoknya ungkapan cinta dan nggak ada orang yang berhak melarang,” Rosa bereaksi cepat. Pupuy terkikik di belakangnya. Dua macan di gank mereka sudah siap bertarung. Salah satu harus dilarikan sebelum seisi hutan kocar-kacir dibuatnya.

”Budaya seperti itu, kan, tidak Islami,” sergah Meti.

”Memangnya dalam Islam nggak ada cinta dan kasih sayang, ya?!”

”Nggak. Yang dikatakan dengan coklat bergelatin lemak babi, mawar merah, dan pesta–pesta gala murahan tidak ada!”

”Stop! Sudah, sudah, jangan berkelahi di sini. Kasih sayangnya hilang lagi nanti. Yuk, Ros, kita duluan. Darah tinggi Meti lagi kumat, tuh! Mengalah sajalah, setidaknya untuk hari ini sampai Valentine nanti,”Pupuy menggamit pinggang Rosa. Menariknya meninggalkan Meti yang masih menyimpan kedongkolan di hatinya.

Sorry, Met!” Pupuy masih menyempatkan menghadiahkan ciuman sekilas di pipi Meti, menimpa sebagian batas kerudung di wajahnya. ”Kita duluan, nih, nggak apa-apa, kan?”

Pupuy yang bijak. Batin Meti. Wasit yang baik dalam komunitas lima makhluk terunik di bumi ini. Tanpanya, tidak akan mungkin mereka utuh sampai hari ini. Pertengkaran demi pertengkaran kerap membayangi persahabatan mereka, terutama karena darah panas Meti yang gampang terpancing. Pupuy yang selalu menengahi. Membawa kesejukan. Membawa perekat untuk mereka berlima.

Dan Rosa, dia yang paling tomboi. Hampir tak ada nilai keperempuanan pada diri anak itu. Tapi anehnya, masih juga ada makhluk bernama cowok yang tertarik pada rambut cepak dan raut keras wajahnya. Meti mendesah. Dia feminin, setidaknya itu yang dia rasa. Berjilbab lagi! Banyak cowok suka perempuan berjilbab. Lebih anggun, lebih beraura, lebih kelihatan suci. Ho … ho … meski itu seharusnya milik mbak-mbak yang jilbabnya menyapu dada dan punggungnya. Meti, sih, ditiup angin saja, ujung jilbabnya berlarian. Membuka sekilas kuduknya yang bersih tak tersentuh matahari. Tapi apapun, Meti tetap berkerudung. Dengan baju full pressed body dan celana cordoray sekalipun. Atau jangan-jangan selembar kain di kepalanya itu yang membentenginya dari tangan laki-laki. Tidak ada yang mau dengannya? Tidak laku? Hiii ….

Membayangkan semua itu Meti bergidik sendiri. Benarkah? Bisa saja Ronnie tidak suka dengan perempuan berkerudung. Lebih suka gadis-gadis yang berambut indah terurai seperti bintang iklan sampo di televisi. Lho, kok, Ronnie? Meti menangkap kembali hatinya yang mulai melangkah pergi lagi. Ya, kenapa Ronnie?

Entahlah, namun bulan-bulan terakhir jantung Meti selalu berdegup sepuluh kali lebih kencang jika mengingat makhluk yang satu itu. Apa lagi mendengar namanya di sebut. Apa lagi bersirobok dengannya. Seperti udang yang dicelupkan ke air mendidih, pasti. Merah padam. Tanda-tanda apa? Benarkah dia naksir Ronnie, seperti kata sebuah majalah remaja yang kerap dia baca? Suka curi pandang, suka ngomongin, gampang panas dingin, corat-coret namanya di mana-mana, ngelamunin, salah omong, juga jadi manusia paling majnun di dunia. Duhai ….

”Cinta itu fitrah manusia, namun kita harus bisa menempatkannya pada suatu keadaan yang dilegalkan Allah. Islam telah mengatur semua itu. Memberinya kemudahan dengan pernikahan …” Tidak sama persis kalimatnya, namun Meti ingat, pernah membacanya di sebuah situs Islam lokal. Menikah? Tidak boleh pacaran sebelumnya? Nggak ku … ku …!

Gedubrak!

Meti mengelus jidatnya. Senyum sipunya mengembang. Lebih mirip meringis sebenarnya. Etalase buku ditabraknya dengan sukses.

”Nggak apa-apa, Mbak?” seorang gadis pramuniaga menghampirinya.

”Oh, ehm, nggak!” Meti tergagap. Tangannya masih memegangi jidatnya. Lumayan sekali.

”Nggak sakit?”

Meti menggeleng, ”Maaf, ya, saya benar-benar nggak sengaja.”

Dengan malu-malu, diiringi tatapan beberapa pengunjung, Meti berlalu. Menghampiri eskalator dan menaikinya hingga lantai dua.

***

”Satu kelompok dengan Ronnie?” batin Meti sambil memandangi selembar kertas berisi daftar nama kelompok-kelompok praktikum biologi minggu depan.

”Nah, tertangkap!” Rosa menepuk dua bahu Meti sekeras-kerasnya. Matanya segera bergabung pada lembaran kertas di tangan Meti.

”Satu kelompok dengan Ronnie, ck, ck, boleh juga!” decaknya ketika menemukan nama Ronnie terpampang sebagai ketua kelompok Meti. ”Hoi, girls, Meti gabung dengan Ronnie!” teriaknya sadis kepada teman-teman lain.

Ronnie yang tengah menulis di bangkunya mendongak. Meti memerah. Sedetik kemudian memutih kapas. Lesu. Jantungnya kumat lagi. Terlebih melihat Ronnie ada disitu.

”Jadi valentinan?” tanya Lula yang memang sedikit gagap daya tangkapnya.

”Iya,” angguk Rosa tanpa memedulikan keadaan Meti yang nyaris pingsan.

Meti tiba-tiba menemukan satu mata pedang menusuk hatinya. Kilat mata milik Ranti yang duduk di deretan paling depan. Satu-satunya gadis berjilbab lebar di kelasnya. Yang paling getol mengajaknya ngaji setiap Jumat siang di musala sekolah. Dia ibarat malaikat yang selalu mengawasi gerak-gerik Meti. Menegurnya tanpa segan-segan. Dan Meti tidak suka itu. Sok tahu.

Dengan sedikit menata hatinya, Meti pergi menjauh. Ini jalan yang terbaik sebelum pertengkaran terjadi. Di depan malaikat Ranti dan di depan si Romeo Ronnie, Meti tak mau merusak imejnya. Jaim sedikit untuk kemaslahatan yang lebih banyak.

Di sudut sekolah, Meti meluruskan punggungnya. Memeluk kedua lututnya. Ronnie bahkan tak bereaksi tadi. Sebegitu parahkah aku? Keluhnya. Tanggal empat belas sudah di depan mata. Anak-anak gaul kelasnya sudah ribut. Dan apakah Meti akan merana sendirian di kamarnya, pada hari penuh makna itu? Meti menatap bayangannya yang jatuh di antara kerikil-kerikil putih yang tertata rapi di hadapannya. Selembar daun flamboyan kering terbang bebas di udara dicerabut angin dari tangkainya. Merana. Meti mendesah.

***

”Legenda lain bercerita tentang seorang pendeta Katholik dari abad III bernama Valentinus yang dijebloskan ke penjara dan dihukum mati oleh Kaisar Claudius karena ingin menyebarkan agamanya. Selama di penjara, Valentinus tetap memegang teguh imannya dan diceritakan bersahabat dengan putri sipir penjara. Ketika akhirnya Kaisar menghukum mati Valentinus pada 14 Februari 269, ia menulis surat bertuliskan from your valentine kepada anak sipir penjara sebagai tanda mata terakhir.

Seiring dengan berjalannya waktu, cerita tentang Valentine ini berkembang dalam berbagai versi. Namun orang biasanya lebih memfokuskan pada kisah romantis di belakangnya. Ada yang mengatakan bahwa Valentine sesungguhnya jatuh cinta pada anak sipir penjara itu, dan surat yang diberikannya sebagai tanda mata terakhir merupakan awal dari tradisi menulis surat cinta di antara pasangan kekasih …”

Meti menggarisbawahi kata-kata seorang pendeta Katholik pada artikel sebuah majalah remaja di tangannya. Bibirnya mengerucut. Shiba, boneka beruang birunya, dihempaskan begitu saja ke lantai.

Meti tahu cerita itu dari dahulu. Hafal di luar kepala bahkan. Versi Romawi, Prancis, Inggris, Wales, Itali, Jerman, Amerika Utara, bahkan sampai cerita gadis penenun di Cina. Dia juga tahu, itu bukan tradisi Islam. Tapi jika cinta menghampiri, siapa yang kuasa mengelaknya? Semua temannya mengharap valentine tiba. Mengungkapkan rasa cintanya pada pujaan mereka. Bahkan lebih luas lagi.

”Nggak harus kekasih, pada bonyok, adik, kakak, saudara, bahkan si bibi atau mamang sopir bisa saja diungkapkan. Pokoknya hari itu harus full senyum, deh!” kata Pupuy dengan bijaknya.

Meti tersenyum. Dia sudah membacanya di majalah remaja khusus cewek edisi valentine yang terbit minggu ini. Semua yang berbau perayaan pink itu dikupas habis. Tips mau kencan, kado-kado istimewa, baju-baju yang cocok, wah, komplet.

”Met, ada telepon, tuh!” panggil Mamah dari ruang tengah. Telepon? Sepertinya tadi dia tidak mendengar deringnya. Meti kian pusing. Mengapa jadi begini? Dia melihat sekilas kalender di atas rak bukunya. Tanggal sebelas Februari.

”Makasih, Mah!” seru Meti sambil mengangkat gagang telepon.

”Ranti,” jelas Mamah tanpa ditanya.

Meti berubah. Mengganti nada bicara yang sudah di ujung lidahnya. Tadi, dia sangat berharap, semoga saja yang meneleponnya … Ronnie!

”Meti, bisa bantu kami nggak, buat ngurusin diskusi khusus bulan ini? Kebetulan kami lagi kekurangan orang di kepanitiaan, nih!” kata Ranti setelah berucap salam.

”Kapan?”

”Tanggal empat belas, dari asar sampai ba’da magrib.”

Tanggal empat belas? Pesta Valentinan gengnya.

”Bisa, ya? Soalnya kami benar-benar butuh orang. Diskusi kali ini rada spesial, pembicaranya saja Ustad Zakaria yang ngetop itu,” pinta Ranti penuh harap.

Meti menggaruk kepalanya. ”Aku nggak yakin, sih, tapi nanti aku usahain!”

Malas, Meti menutup teleponnya. Ke musala atau gabung dengan teman-temannya, ya? Kalau gabung dengan Pupuy cs bisa-bisa dia dicengin habis, jika hadir tanpa pasangan. Biarpun mereka membolehkan datang dengan saudara, tapi malu, dong, sementara mereka semua dengan pangeran masing-masing. Jangan-jangan dikira nggak laku!

***

Ini hari termemuakkan bagi Meti, sebenarnya. Hari-hari yang panjang telah dia lewati dengan penuh kecemasan dan kebimbangan. Ronnie tidak pernah bercakap dengannya kecuali saat praktikum biologi di lab. Sedikitpun tak ada harapan baginya. Segalanya terasa gelap.

Ah! Meti nyaris tak percaya melihat daftar surat yang ada di inbox-nya. Ya, internet obat stres paling mujarab untuk Meti. Dia bisa bermain ke mana saja dia suka.

Ronnie Alam Bhuana. Meti mengucek matanya. Nggak salah? Segera dibukanya surat berisi bom waktu yang siap meledakkan dadanya itu.

Singkat. Pendek saja isinya.

Tell me whom you love and

I will tell you who you are

Will you be my valentine?

Ronnie

Napas Meti memburu. Tidak salahkan penglihatannya? Pangerannya telah datang di saat-saat kritis hampir menjelang. Sesaat jemarinya bergetar. Lupa untuk me-replay surat bersejarah ini. Angannya bermain-main di atas langit-langit kamar. Baju apa yang akan dia kenakan? Memakai lipstikkah? Parfum apa yang cocok? Semuanya berputar dalam kerut merut otaknya. Dan mestikah dia mengenakan jilbabnya? Angan Meti terbanting membentur dinding. Ya, bagaimana dengan jilbabnya?

***

Meti berputar sekali lagi di depan cermin. Kulot merah tua, gamis selutut warna pink yang manis dihias renda-renda di ujung lengan dan ujung bawah, juga jilbab mungil warna senada yang dipasang gaya. Bibirnya disapu usapan tipis lipstik merah muda. Meti tampak berbeda. Dia tersenyum. Baru dia sadari kini, sebenarnya dia memiliki sisi kecantikan yang selama ini tersembunyi.

”Duh, yang mau valentinan …!” ledek Mamah ketika Meti keluar dari pintu kamar. Gadis itu tersipu, ”Jangan sampai malam, ya, Met.”

”Oke, deh!” sahut Meti mantap.

Dia menatap jam yang terpasang di dinding. Hampir setengah empat. Ronnie berjanji menjemputnya tepat setengah empat.

”Tuh, kan, Met, meski pakai jilbab kamu tetap bisa tampil gaya dan mengikuti tren,” cetus Mamah yang menjajari Meti. Dulu Mamahlah yang mendorong Meti untuk berjilbab. Katanya, nenek ingin cucu perempuan satu-satunya berkerudung setelah akil baligh. Maklum, kakek dan nenek kan, Haji! Mamah sendiri kalau pergi biasanya berkerudung. Kerudung gaya.

Hampir jam empat. Meti mulai gelisah. Masa, sih, kencan pertama telat. Nggak punya sopan santun.

Telepon berdering. Meti nyaris melompat menyambar gagang telepon warna hitam itu.

”Apa?!” dia nyaris tak percaya.

Wajahnya berubah.

“Baik, nggak apa-apa, kok. Bye!” Meti menutup telepon.

Mamah yang memperhatikan semua itu menatapnya heran.

Meti melangkah gontai ke kamarnya.

”Ada apa, Met?” kejar Mamah.

”Pestanya batal,” sahut Meti ketus.

”Lho?!”

”Ronnie lupa kalau hari ini dia punya acara dengan keluarganya.”

”Kok gitu?”

”Udah, ah, Mah. Meti mau tidur aja,” Meti merajuk. Hatinya hancur berkeping-keping. Yah, ternyata dia memang tidak berharga. Nggak ada orang yang cinta sama dia. Karena dia buruk rupa, karena dia berat badannya empat kilo lebih banyak dari bobot idealnya. Meti memperkuat bendungan air di matanya. Dia tidak mau menangis di depan Mamah.

Meti meremas-remas Shiba hingga bulu-bulunya berantakan. Tak peduli baru di-laundry dua hari lalu. Air matanya berlelehan membasahi pipinya yang tersapu bedak. Bayang daun-daun palem di luar jendela melindunginya dari sinar hangat matahari sore.

Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Diliriknya weker di atas meja sekilas. Tergesa, disambarnya tas di sampingnya. Setengah berlari dia melintasi ruang tengah.

”Mau ke mana, Met?” tanya Mamah yang tengah membaca di sofa.

Meti tidak melihatnya, ”Valentinan!” sahutnya.

”Katanya tadi?” Mamah mengernyitkan keningnya.

”Di musala sekolah ada diskusi tentang valentine, Mah,” jelas Meti,”Daripada di rumah, bete.”

Mungkin diskusi telah dimulai, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Meti membuka pintu taksi dengan hati lapang. Ke mana dia selama ini, ya Allah? Meti tahu, belum sepantasnya dia mencintai manusia sebelum dia mampu mencintai Allah dengan seluruh jiwanya. Dia bersyukur Ronnie tak datang. Setidaknya dia masih diingatkan setelah selama ini terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan sahabat-sahabatnya.

Lampu merah menghadang laju taksi yang ditumpangi Meti. Jalanan sore tak pernah sepi dari macet. Tiba-tiba Meti tersenyum. Hidup itu seperti jalan raya, harus taat peraturan jika ingin selamat. Coba saja jika lampu merah diterobos, bisa hancur tubuhnya diserbu ratusan mobil yang tengah melintas juga.

Dia ingat Pupuy, Rosa, Lula, yang harus dia tinggalkan. Ya, harus. Namun, suatu saat Meti berjanji akan kembali. Karena, dia mencintai mereka dan dia ingin berbagi dengan mereka tentang makna sebuah cinta yang lebih berharga dari sebatang coklat. Cinta pada Allah. Pada-Nya kita takkan kecewa.

***


Diambil dari buku kumpulan cerita berjudul ”Kidung Kupu-Kupu Putih”.

karya El-Syifa.etakan I, Shafar 1422 / Mei 2001.

Diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung.

Februari 14, 2007 - Posted by | dua insan

50 Komentar »

  1. 75 penilaian ku.. n_n..

    Komentar oleh wanita yg udah membaca | Mei 29, 2007 | Balas

  2. potret mayoritas generasi muslim Indonesia tercinta :
    korban sinetron, melankolis, mudah terpengaruh,
    …dan kurang(tidak mau) paham syariat!

    pesan moral ceritanyanya terlalu tipis dan sekilas, tidak sebanding dengan pemaparan pola pikir dan gaya hidup di awal cerita.
    Apa kira2 bisa menimbulkan efek positive more than negative? kok I doubt it…

    Komentar oleh Joepardyman | Juli 30, 2007 | Balas

  3. cinta itu subjektif eyh??/
    tapi, cinta kpd allah itu ialah segalanya..
    moga idup kita diberkatinya.

    Komentar oleh hakoo | November 27, 2007 | Balas

  4. ngrayain valentine ga harus party ma tmn2… salut buat meti…

    Komentar oleh nez | Januari 16, 2008 | Balas

  5. Valentine itu memang bukan tradisi moeslim…kalau kita mau menyayangi pasangan, org tua, dan teman2 kenapa musti setahun sekali? Islam mengajarkan hal2 itu setiap saat dan dirayakan setiap saat juga yaitu dengan kita selalu melakukan hal2 baik terhadap sesama manusia dan yg paling utama kepada Allah SWT

    Komentar oleh wenny | Januari 26, 2008 | Balas

  6. ceritanya sedih banged..
    scra aQ prnah ngrasain hal kyak gtu..
    hiks…

    Komentar oleh qQ | Mei 9, 2008 | Balas

  7. wah… ceritanya bagus sekali. memang betul tuhh cinta pada Allah itu lebih berharga dari sebatang cokelat. kalau kita ingin ungkapkan rasa sayang kita kenapa harus nunggu hari valentine?. kitakan bisa ungkapkan kapa saja iya kan…???

    Komentar oleh yansen cah AKN | Juni 24, 2008 | Balas

  8. Cerita’a baguz bgtz…
    mrip ma Kisah yg pernah aq alamin,,,
    ^_^

    Komentar oleh Phyta | Juni 27, 2008 | Balas

  9. “Barangsiapa meniru satu umat maka dia termasuk umat tersebut” (Hadits).
    menyanyangi orang tdk harus hari valentin yang notabene budaya kristen. ingat hadits diatas!!

    Komentar oleh @nt0 | Juli 6, 2008 | Balas

  10. valentinan binatang apaan sih?

    Komentar oleh Prib | Juli 9, 2008 | Balas

  11. do you know any information about this in english?

    Komentar oleh dil okullari | Juli 22, 2008 | Balas

  12. saya suka sama cerita diatas.,wanita berjilbab jangan takut gak dapat cowo yang diharapkan.asalkan ngak cuma berjilbab doang,maksudnya cuma kedok doang………..

    Komentar oleh adittina | Agustus 5, 2008 | Balas

  13. waw ceritanya lumayan keren juga ya…

    Komentar oleh adittina | Agustus 5, 2008 | Balas

  14. ceritanya berbagai karakter yang berlainan,aQ suka cerita yang logis…

    Komentar oleh yanti | Agustus 5, 2008 | Balas

  15. bagus bangetz salut ma meti…

    Komentar oleh fahrudz89 | Agustus 26, 2008 | Balas

  16. bagus bangets ceritax,pesanx mengena di hati lohhhh

    Komentar oleh putri | Agustus 28, 2008 | Balas

  17. Cerita’y seru bgt…
    slt tu crt’y!!!

    Komentar oleh Nadyah | November 28, 2008 | Balas

  18. love come like a wind…
    we never know they come from where…
    But love to Allah always true n never give our a lieness..
    Salut buat Meti…

    Komentar oleh indra | Desember 9, 2008 | Balas

  19. karepmu weehhh…
    aku melu wae…
    cing penting cow cuit….
    ckukuukukkkkk,,,,,

    Komentar oleh surti setiti | Januari 21, 2009 | Balas

  20. komentarnya @nto ga penting bgd…

    Komentar oleh chibi | Januari 23, 2009 | Balas

  21. aku rasa isinya bagus banget mengingat semakin sedikitnya kesadaran akan perlunya cinta selalu ada di setiap sendi kehidupan kita

    Komentar oleh tin2 ekowati | Januari 23, 2009 | Balas

  22. Subhanallah…
    Sempurna bgt Crita muW…
    Qu skRng sadar kLo kasih syg gag haRus d hri valentine,,,maKasih iaa…

    banyak2 lah bErkarya…

    Komentar oleh nuE... | Februari 6, 2009 | Balas

  23. Assalam
    Boleh ana minta cerpenx… Bagus…
    Mau ana taruh di Mading…

    Komentar oleh Syahidah_putri | Februari 8, 2009 | Balas

  24. Assalamu’alaikum
    Boleh minta cerpennya? Mau ana taruh di MADING MUSHOLLA
    Syukron… Makasih…
    Wassalam

    Komentar oleh Syahidah_putri | Februari 8, 2009 | Balas

  25. Wah2 Bagus Juga

    Komentar oleh Saya | Februari 12, 2009 | Balas

  26. Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh Saya juga tidak setuju dengan valentine

    Komentar oleh Akmal | Februari 12, 2009 | Balas

  27. Kug g da crita yg baru’y??? Lumayan bwt remaja yg haus akan crita cinta islami…
    Askum..

    Komentar oleh U_cuP.yr | Februari 17, 2009 | Balas

  28. Askum..

    Komentar oleh U_cuP.yr | Februari 17, 2009 | Balas

  29. ceritaX bguz bnget.mang bner koq..ksih syg ga’ perlu nunggu valentine dlu..v bsa kpn z…

    Komentar oleh putri | Februari 24, 2009 | Balas

  30. :-)
    wah.salut buat meti..
    Ceritanya gak jau beda sama yg pernah aku alamin..

    Komentar oleh Rattu | Maret 13, 2009 | Balas

  31. Cinta sesuatu yang indah namun bisa berbuah petaka.
    Jangan…
    janganlah engkau terbuai akan perasaan…
    sadarlah hanya cinta kepada dan karena Allah-lah
    yang akan berakibat kebahagian yang hakiki.

    Komentar oleh wulan | Maret 17, 2009 | Balas

  32. keren…

    Komentar oleh dea | Juni 23, 2009 | Balas

  33. nice…

    Komentar oleh jo | September 2, 2009 | Balas

  34. kurang romantis ..
    But ,, I like it ..

    Komentar oleh sheila | September 22, 2009 | Balas

  35. g”seruh ah…….

    Komentar oleh lela | September 25, 2009 | Balas

  36. biaasa aja,….

    Komentar oleh raden | Oktober 19, 2009 | Balas

  37. co cweet…

    Komentar oleh rista | Oktober 26, 2009 | Balas

  38. very well ..

    Komentar oleh fafa | November 22, 2009 | Balas

  39. yaahhh..diantara cinta yang tersebar dimuka bumi, ada cinta yang lebih tinggi kedudukannya yaitu cinta kepada Sang Pemberi Cinta……..

    Komentar oleh hasmawati hasma | Januari 4, 2010 | Balas

  40. owh….. so sweet…

    Komentar oleh lola | Januari 19, 2010 | Balas

  41. asik bngt critanya

    Komentar oleh zuhairiyah | Januari 22, 2010 | Balas

  42. crtany tu kren abis ……………………….

    Komentar oleh ayu | Februari 3, 2010 | Balas

  43. Cerita~y bgz…Emg cnt yg paling utama adl cnt pd Allah…Zat yg udh menghdirkn kt ke2 ini…Krn Dia,,kt bs mrskn hdup..Tp seorg laki2 yg beriman juga ku dambakan..

    Komentar oleh Dewy chynta | Februari 18, 2010 | Balas

  44. Benar kata Mb’ Dewi Chynta
    “cinta yang paling utama adalah cinta pada Allah…”
    jadi, Allah adalah prioritas utama dalam hidup kita

    sukron

    Komentar oleh rudi | Februari 19, 2010 | Balas

  45. q kepengen cinta itu datang kepada q
    q sangat menyukai seseorang seperi qm,…?!!

    Komentar oleh devi puspita sari | Februari 21, 2010 | Balas

  46. mengharukan…

    Komentar oleh ELVIRA | Februari 22, 2010 | Balas

  47. nah gitu anak muda nyikapi valentine. okey

    Komentar oleh fryda | Mei 3, 2010 | Balas

  48. VALDAYS? hmm :)
    ini bagus buat pelajaran

    Komentar oleh citara | Mei 19, 2010 | Balas

  49. duh..
    nyentuh banget,,
    sbar jch yang pasti nya..
    karena dengan sbar,kita bisa melanjutkan hdup dgn tentram..
    ^,^

    Komentar oleh septian | Oktober 20, 2010 | Balas

  50. hmhmhmhmhmhmhmhmhmhmhmhmhmhmhm

    nyentuh dihati dhe

    Komentar oleh cindhi | April 5, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.