Cerita Cinta

ingin selalu mencintai dan dicintai karena-Nya

Suami Impian

            Penulis : Asma Nadia

 

“Apa lagi, Nirina?”

Gadis dengan garis wajah oriental itu tak menjawab. Hanya menggoyang-goyangkan kakinya, resah.

“Tak ada yang salah dengan perawakannya, kan? Tidak seperti lelaki yang terakhir datang.”

Nirina tersenyum. Pasti pikirannya melayang ke kejadian tujuh bulan lalu, ketika seorang lelaki datang melamar. Biyan, namanya. Kehadiran sosok tegap itu segera saja membawa kami pada pertengkaran sengit,

”Aku tidak bisa.”

”Kenapa?” kejarku cepat. Ini bukan pertama kali Nirina beralasan. Selalu ada saja kekurangan lelaki yang melamarnya.

Kekanak-kanakan!

Terlalu serius. Lihat keningnya yang terus-terusan terlipat!

Wajahnya aneh, tidak terlihat tulus.

Entahlah, dari caranya berjalan, sepertinya dia tipe lelaki yang suka mendominasi perempuan!

Dan masih ada segudang alasan yang keluar dari bibir tipisnya.

Pun tujuh bulan lalu, ketika aku menerka-nerka keberatannya terhadap Biyan. Wajah lelaki itu simpatik, bahasanya pun santun. Penampilannya memang terbilang biasa, tapi jelek pun tidak.

”Jadi, apa lagi, Nirina?”

Matanya!

Di tempat duduknya, Nirina menggoyang-goyangkan kakinya, persis anak kecil. Tangan gadis itu berkeringat. Jantungnya berdegup lebih keras.

Aku memperhatikan Biyan lebih lekat, seandainya kamera, maka barangkali aku sudah menangkap wajah sederhananya dengan zoom terdekat.

”Tidak ada yang salah dengan matanya!” ujarku, setengah berbisik.

Nirina menggeleng-gelengkan kepala. Kerudung segi empatnya terusik.

Gemas, aku tak lagi bicara. Percuma, toh Nirina lebih sering tak mendengar perkataanku.

Kulihat mereka masih bercakap-cakap, tapi tak ada perkembangan. Upaya kedua orang tua Nirina untuk mengarahkan obrolan ke tingkat lanjutan pun tak menampakkan hasil.

Lima belas menit kemudian, Biyan pamit.

Selesai sudah, pikirku. Nirina memang terlalu.

”Jangan menyebutku terlalu!” protesnya cepat.

Seperti biasa Nirina selalu tahu pikiranku, seperti aku selalu bisa menebak isi kepalanya. Kami memang teramat dekat.

”Tapi kamu memang terlalu, Nirina.”

”Tapi, matanya….”

”Tidak! Bukan matanya. Ayolah, percuma bohong di depanku.”

Nirina menyenderkan badannya di pintu kamar. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Tak lama, bahunya mulai terisak-isak.

”Tolong, jangan desak aku terus.”

Entah isaknya, entah memang waktu itu sudah terlalu malam untuk berdebat. Aku mengalah.

Itu yang terjadi tujuh bulan lalu, tapi tidak kali ini.

Rahangku mengeras. Apapun yang terjadi, pokoknya aku sudah bertekad untuk mempertahankan pendapatku mati-matian. Demi kebaikan gadis itu. Nirina tidak bisa terus-terusan begini. Tidakkah dia sadar usia yang terus melaju tanpa hambatan?

”Aku tahu,” desisnya lemah.

Aku gembira mendengarnya. Sungguh. Tidak ada yang lebih menggembirakanku selain keberanian Nirina untuk jujur pada dirinya sendiri.

”Ya, bagus begitu. Mantapkan hatimu, Nirina.”

Nirina tak menjawab. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah lelaki ke sekian yang masih terus bicara. Di antara mereka, kedua orang tua Nirina sebaliknya berkali-kali justru melirik anak gadisnya.

Mudah-mudahan kali ini berhasil, barangkali begitu pemikiran mereka. Setidaknya Nirina belum meninggalkan teman satu kantornya itu, meski sudah setengah jam lebih.

See? Tidak jelek juga kan memberi dirimu kesempatan. Setidaknya kalian sudah satu kantor, pasti lebih mudah, sebab telah saling mengenal.”

Nirina tiba-tiba menggeleng. Melunturkan keyakinan diriku barusan.

”Kami memang satu kantor, tapi beda divisi. Dia orang baru malah. Tak banyak yang kutahu,” bisiknya dengan intonasi yang telah kuhafal.

Tidak! Tuhan, jangan biarkan Nirina menarik dirinya lagi. Kumohon….

Tapi Nirina mulai terlihat tidak nyaman. Kedua kakinya bergerak-gerak lagi. Wajah gadis berkulit kuning langsat itu kembali tak tenang. Puncaknya….

Jangan! Jangan begitu Nirina. Eh, kembali, jangan pergi. Nirina…!

”Aku tidak bermaksud begitu. Bukan maksudku menjadi perempuan yang selalu mengecewakan.”

Aku menarik napas panjang, bingung harus menjawab apa.

”Kamu egois, Nirina. Suami impian tidak akan datang jika kamu terus begini.”

Jawabanku yang tegas itu serta-merta membuat Nirina terkesiap,”Benarkah?”

Aku mengangguk.

”Maafkan aku, bukan maksudku begitu.”

Aku tiba-tiba saja ingin tertawa keras.

”Jangan keras-keras. Telingaku tidak tuli.”

Aku tetap saja tertawa. ”Nirina… Nirina,” sebutku kemudian, masih dengan gelak yang tersisa,”kamu tidak harus meminta maaf padaku. Memangnya, apa peduliku?”

Nirina terlihat tak mengerti.

”Dengar,” lanjutku lagi,”Tak peduli apakah seorang Nirina menikah atau menjadi perawan tua, tidak banyak bedanya bagiku. Toh kita tetap sama-sama, kan? Tidak ada yang bisa mengubah itu.”

Mata sipit memanjang milik Nirina tampak bingung.

”Kamu egois, Nirina. Dengar, selama ini kamu hanya mempedulikan perasaanmu, kemauanmu, dan lupa memandang sekitar. Sekali-kali keluar dari dirimu, Nirina. Pandang sekelilingmu dengan mataku. Lihat, betapa kecewanya wajah Papa dan Mama, setiap kali kamu menarik diri dari proses mengenal lebih dekat calonmu. Bisa kamu lihat sekarang?”

”Kamu bohong!” Mata Nirina mendadak berair.

”Itu yang sejujurnya, kamu tahu itu.”

Gadis itu menggeleng lagi. ”Tidak, tidak. Kamu bohong. Papa dan Mama baik-baik saja, mereka dua orang tua yang luar biasa. Tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Tidak seperti banyak orang tua lain yang kutahu.”

Ketika Nirina meninggikan intonasinya, dan mulai dengan serampangan membela diri, aku memilih bungkam. Tidur mungkin jalan keluar yang baik. Tapi sebelum pergi, aku meninggalkan kalimat ini padanya.

”Tidakkah setiap orang tua ingin menjadi kakek dan nenek, Nirina? Kebahagiaan apa lagi yang bisa kita berikan pada mereka, setelah kelucuan sebagai kanak-kanak menghilang?”

Nirina diam.

Tapi aku tahu, sebetulnya dia menyimpan kalimatku baik-baik dalam ruang penting di hatinya.

Buktinya, seminggu kemudian gadis itu kembali membuka diri. Padahal laki-laki yang datang kali ini sama sekali tidak dikenal gadis itu. Mariska, kakak satu-satunya Nirina yang mengenalkan.

Tingginya cukup, berat badan sedang. Alis hitam dan tebal, nyaris bertaut di dahi. Bibirnya sedikit kecokelatan, namun tidak terlihat hitam oleh rokok. Sungguh memberi kesan awal yang baik buatku, kuharap begitu juga buat Nirina.

”Ssst, siapa tadi namanya?”tanyaku, sekonyong-konyong.

Nirina sedikit tersipu, namun dijawabnya pertanyaanku dengan suara serupa bisikan,”Kamu tidak menyimak rupanya?”

Aku tertawa.”Tidak, sebab kamu sendiri tidak ingat namanya, kan?”

Nirina kembali tersipu. Tapi aku senang melihat semburat merah muda di wajahnya yang kuning.

”Bagus.”

Laki-laki itu menyebutkan namanya, membuat pias merah jambu itu kembali memuai di wajah Nirina. Seperti kanak-kanak yang tertangkap basah mencuri permen.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

”Bagus ini teman Kak Riska waktu di SMA, Nirina.”

Kami berpandangan, lalu berbarengan ber’O’.

Setelah itu kata-kata mengalir, silih berganti. Selama pertemuan itu pula, aku mencatat perubahan cukup besar pada Nirina. Gadis itu terlihat lebih membuka diri, dan berusaha keras terlibat dalam percakapan secara aktif.

Dia, misalnya, mau bertanya di mana tempat tinggal pemuda bernama Bagus itu, lalu apa hobinya. Dan ketika Bagus menyebutkan membaca sebagai hobi utama, mata memanjang milik Nirina berkerlap.

Nirina bahkan berani menanyakan pekerjaan Bagus, juga keluarganya. Pemuda itu menjawab semua pertanyaan Nirina dengan simpatik. Aku suka melihat cara berbicaranya yang begitu teratur, tidak terburu-buru, santun tanpa perlu menjadi kaku.

“Ssst, kamu bertanya atau interogasi?” godaku saat Bagus berpamitan.

Awalnya Nirina tertawa saja. Tapi sewaktu jam demi jam berlalu, gadis itu berangsur tak tenang.

“Tidak perlu cemas begitu, Nirina.”

Gadis kesayanganku itu seperti tak mendengar, terus mondar-mandir di kamarnya yang berukuran 3 x 4. Lalu tak berapa lama, setelah Mariska pulang, kecemasan Nirina berubah menjadi kepanikan.

”Hey… hey… tenang saja, Nirina.”

Nirina menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu betul, aku terlalu agresif tadi. Harusnya tidak begitu. Ya Allah… lihat kan wajahnya begitu lega ketika pertemuan berakhir? Seharusnya aku lebih menahan diri, dan tidak bersikap seperti seorang polisi yang melakukan investigasi.”

Belum pernah kulihat Nirina segundah itu. Berkali-kali tangan rampingnya ditepukkan ke kening.

“Duh, bodohnya aku!”

“Tenang,”

“Tapi tadi kamu sendiri yang bilang begitu, kan?”

Aku garuk-garuk kepala, benar sih. Tapi tadi kan aku hanya menggodanya saja.

”Sekarang dia akan melihatku tak ubahnya aggressor, seperti Israel terhadap Palestina.”

”Kamu berlebihan, ah.”

”Ok, seperti striker di lapangan terhadap kipper?”

”Ini bukan pertandingan bola, Nirina. Tenanglah.”

”Sekarang dia akan berubah pikiran,”suaranya mengandung penyesalan.

Aku terenyuh mendengarnya. Suara gadis itu barusan terdengar tulus, pekat dengan kekhawatiran. Seolah berkata, dia telah menemukan suami impian.

Padahal ini baru pertemuan pertama.

Alhamdulillah.

”Tapi, bagaimana jika Bagus tidak kembali?”

”Gampang saja,” sahutku mencoba menenangkannya.

”Maksudmu?”

”Ya, setelah semua kecerewetanmu tadi, siapa yang sudi kembali?”

Nirina shocked, tapi aku tertawa.

“Hey… hey. Aku cuma bercanda, kok.”

Bibir gadis itu menyungging senyum. Hanya sekilas sebelum mendung kembali menggayuti, dan membuat paras Vic Zhounya murung.

Syukurlah kekhawatiran gadis itu tak terbukti. Beberapa hari kemudian, pemuda bermata hitam yang memiliki alis tebal itu datang lagi. Mariska kembali menemani percakapan dua anak muda itu, bahkan Papa dan Mama belakangan ikut meningkahi obrolan ketiganya.

Raut wajah Nirina cerah, aku senang merasakan hatinya yang melonjak-lonjak. Tampaknya pemuda ini memiliki kecocokan dengan Nirina, dan bisa memenangkan kunci hati gadis itu.

Pada pertemuan kelima, Bagus membawa kedua orang tuanya, dan mengajukan niatan. Mariska memang tak salah pilih makhluk untuk menikahi adiknya. Bagus tak seperti kebanyakan pemuda yang cuma mau pacaran, sebaliknya cowok itu dengan terus-terang mengemukakan keinginannya untuk memperistri Nirina.

Tibalah saatnya semua mata tertuju pada Nirina, yang sejak tadi menundukkan wajah mungilnya, yang hari itu dibalut kerudung ungu muda.

Diam-diam aku juga seperti mereka, menunggu. Berdoa, agar Nirina tak lagi ragu. Kemudian pelan-pelan kami melihat Nirina mengangkat wajahnya. Sebutir embun menggenang di kedua mata sipitnya. Dan seperti sulit dipercaya, Nirina kemudian menganggukkan kepala.

Yes! Yess! Yesss!

Aku bersorak paling kencang, meski sepertinya tak ada yang mendengar, kecuali Nirina sendiri.

Rapat kilat dilakukan, tanggal pun ditentukan. Hanya dalam waktu dua pekan sebuah pernikahan siap digelar. Aku betul-betul salut melihat kegigihan dan ketenangan pemuda bernama Bagus itu. Ketenangan yang perlahan mengalir pada diri Nirina, dan memberinya kemantapan hati.

Nirina… Nirina… akhirnya! desisku di antara peluk cium, Kakak, Papa, dan Mama. Kegembiraan serupa memancar dari wajah kedua orang tua Bagus, juga pemuda itu sendiri.

Begitulah, hari demi hari setelahnya, aku mencatat keriangan Nirina. Antusiasmenya dalam memilih undangan, mengurus sendiri ke percetakan, terkadang ditemani Bagus dan adiknya. Lalu mencari masjid tempat akad nikah dilakukan. Juga menyewa tempat resepsi besar, sesuai keinginan kedua orang tua Nirina. Aku sendiri tak heran, maklumlah mereka dua keluarga besar. Tentu banyak yang akan protes jika tak diundang.

Hingga hari H tiba.

Sejak malam sebetulnya aku menangkap sesuatu yang lain. Bukan kecemasan seperti yang sudah-sudah, meski udaranya nyaris serupa. Nirina, seperti menunggu sesuatu.

Salat malam dilakukan gadis itu, dengan sujud-sujud panjang. Lalu tangannya menengadah. Usai tahajud, gadis itu membuka jendela, dan matanya menerobos dalam kegelapan, seolah mencari-cari sesuatu. Bahkan hingga Subuh berkumandang, detak jantungnya kembali berbunyi keresahan, agak berbeda, tapi nyaris seperti yang lalu-lalu.

Mulanya aku tak mau bicara. Kubiarkan saja dia merenungi masa-masa terakhir sebagai seorang gadis. Lusa dia akan terbangun dengan seorang pendamping di sisinya, dalam dunia yang sama sekali berbeda. Bahkan sejak mereka masuk ke peraduan.

Harusnya, Nirina bahagia. Kenyataannya?

Lepas salat Subuh, ketika Mama menggedor kamar Nirina, menyuruhnya mandi, Nirina melakukannya setengah hati saja. Begitu pun ketika Mariska mengingatkannya agar segera keluar kamar, untuk dirias sebagaimana pengantin umumnya, Nirina menunjukkan sikap enggan.

Aku tak tahan lagi berdiam.

”Nirina, kenapa lagi?”

Wajah orientalnya tampak cantik dalam lipstik warna merah jambu. Tapi gadis itu masih saja tepekur di pinggiran ranjang pengantin yang sudah dihias dan menyebarkan wangi melati.

”Kamu harus ganti baju, Nirina.”

Kepalanya tertunduk,”Ya, aku tahu.”

”Lalu? Jangan katakan kamu ragu lagi.”

Nirina tak menjawab, kedua kakinya digoyang-goyangkan hingga ranjang sedikit terayun. Sikap yang kontan membuatku merasa cemas.

”Kamu tidak ragu lagi, kan? Tidak berubah pikiran, kan?”

Nirina menggelengkan kepalanya.

”Lalu apa? Ada apa?”

Nirina mengembuskan napas berat. ”Entahlah… aku rasa… aku….”

Kalimatnya terhenti, gadis itu menarik napas lagi.

”Kenapa denganmu?”

Nirina melompat dari tempat tidur. Barusan suara Mama menyuruhnya berpakaian, terdengar lagi.

Tangan Nirina menarik resleting kebaya putihnya. Lalu masih tetap dengan wajah murung, memakainya.

Please, jangan sekarang, Nirina. Jangan ragu ketika kamu sudah sedekat ini,” pintaku, setengah memohon.

”Aku tahu,”

”Lalu?”

”Aku tidak ragu, hanya saja…,” suaranya kembali terputus teriakan Mama. Nirina menjawab panggilan orang tuanya tanpa membuka kamar. ”Sebentar, Ma….”

See? Semua orang gugup hari ini, Nirina, apalagi kamu. Itu wajar!”

Nirina tak menjawab. Gadis itu kini telah selesai berpakaian. Dipandangnya sosok kecil mungil dalam balutan kebaya berwarna putih gading, dan kain batik di depan cermin. Selembar kain schiffon sebagai pelengkap jilbab dikenakannya tanpa ekspresi.

Ahh, aku tak suka melihat wajah cantiknya yang masih saja murung.

”Kalau bukan ragu, apa lagi?” kejarku setelah beberapa saat kami hanya berdiam.

”Aku menunggu pertanda.”

”Apa?” teriakku kaget,”Pertanda?”

”Ya!” jawabnya tegas,”Pertanda dari Allah, bahwa Bagus memang suami impian, laki-laki yang dipilihkan-Nya untukku! Apa itu salah?”

Fhew. Nirina sungguh menguras kesabaranku.

“Dan kamu belum mendapatkannya? Selama obrolan lima kali dengan calonmu itu, tidakkah kamu bisa menangkap pertanda?”

Nirina menggeleng.

Ya Allah. Aku makin kesal dibuatnya.

“Maksudku bukan itu, tapi pertanda. Sesuatu yang bisa membuatku lebih mantap, sebab tahu memang dialah pilihan dari-Nya.”

“Pertanda, ya? Pertanda?!”

“Ya… sudah sejak semalam aku memikirkannya.”

“Kenapa tidak mencari pertanda ketika tanggal belum lagi ditetapkan?”

“Tidak bisa.” Kepalanya menggeleng lagi, ”Sebab kali ini aku tak punya alasan. Tidak matanya, tidak cara berjalannya, tidak sikapnya, tidak dahinya yang selalu berkerut, tidak ada!”

Bagus nyaris sempurna di mata Nirina. Sosok suami yang diimpikannya. Aku tahu pasti itu.

”Kalau begitu, ini cuma alasan yang dicari-cari!” teriakku dengan suara tertahan.

Sementara matahari terus bergulir. Di luar kamar sudah terdengar suara riuh sanak saudara yang datang untuk mengantar Nirina ke tempat akad nikah, sekaligus resepsi. Pintu sudah berkali-kali diketuk, tapi Nirina belum keluar juga. Dan alasannya cuma satu: gadis itu belum menemukan pertanda!

Ini gila!

”Jangan menyebutku begitu. Sudah kubilang ini cuma masalah waktu. Pertanda itu pasti datang.”

”Seperti apa?”

Nirina mengangkat bahunya. ”Entahlah, tapi mungkin aku akan mendengar orang-orang menyebut kata ’bagus’ berkali-kali, atau awan tiba-tiba membentuk inisial nama kami berdua, atau….”

”Atau kamu tiba-tiba melewati mobil pengantin lain, atau melewati toko kue di mana terlihat kue pengantin tiga tingkat disana, atau sekawanan burung-burung terbang di langit membentuk wajah calon suamimu itu… atau…,” ujarku asal.

Nirina mengangguk. ”Ya, seperti itulah. Apa pun yang bisa dijadikan pertanda.”

Aku benar-benar hilang akal, Nirina kenapa tidak mendengar kata-kataku, sekali ini saja!

”Cobalah mengerti, terlalu banyak yang harus aku pertaruhkan,” ujarnya mencoba meyakinkanku, ”Bagaimana kalau Bagus tak sebaik yang kita duga? Bagaimana jika dia sudah punya istri dimana-mana, bagaimana jika dia nanti ternyata suka memukuli istri? Atau ternyata pernah terlibat mafia di luar negeri, atau merampok bank?” Suara Nirina meninggi, di sela ketukan pintu yang kembali terdengar.

”Kamu kebanyakan nonton infotainment!” sergahku cepat.

Ketukan di pintu berulang lagi. Ritmenya kian cepat. Orang-orang pasti mulai tidak sabar.

”Nirina….”

Itu suara Mama.

Nirina diam, aku tahu dia menungguku mengucapkan sesuatu.

“Kalau begitu, cari kelebihannya Nirina. Pusatkan pikiranmu pada kebaikan-kebaikannya, itulah pertanda! Itulah alasan kenapa kamu harus menikah dengan Bagus.”

Nirina diam, aku tahu dia sedang berpikir keras.

Tetapi tak ada waktu, suara ketukan di pintu kini telah berupa gedoran.

Nirina harus segera mengambil keputusan. Sebentar lagi pintu mungkin didobrak dari luar. Mereka bisa saja mengira gadis itu telah pingsan di kamarnya karena nervous.

Di tepi ranjang, Nirina masih berpikir. Mengetahui itu aku menjadi lebih semangat mengembuskan pikiran demi pikiran.

Sikapnya yang sopan, Nirina.

Matanya yang tak liar ketika menatapmu.

Perhatikan bagaimana dia selalu menunggu lawan bicaranya selesai, sebelum menanggapi.

Pikirannya yang cerdas telah menghemat banyak biaya pernikahan.

Keinginan untuk memperistrimu secepatnya.

Ingat senyumnya yang hangat. Matanya yang teduh.

Kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Juga keraguan yang beberapa kali melintas.

Lalu salatnya yang selalu tepat waktu.

Air mata Nirina menetes.

Aku mengangguk, ”Itu lebih dari pertanda, Nirina. Allah mengirimkanmu seorang lelaki yang baik.”

Nirina mengikuti anggukanku.

Well, mungkin tidak seganteng Keanu Reeves, perawakannya pun tidak setegap Ade Ray, apalagi suaranya jika dibandingkan Clay Aiken yang merdu, belum lagi….”

Nirina mengapus air matanya. ”Sudah, sudah. Jangan membuatku kembali ragu,” potongnya cepat.

Aku setuju.

Di dalam mobil yang mengantarnya ke tempat akad nikah, aku mendengar Nirina bersenandung kecil.

”Nirina….”

”Apa?”

”Tidak jelek kan menuruti kata hati?”

Gadis berwajah oriental itu mengangguk. Lalu tersenyum lebih lebar. Menenangkan Papa dan Mama, yang sejak tadi tampak kebingungan menyaksikan percakapan Nirina denganku sepanjang perjalanan. Barangkali alasannya karena aku cuma sosok tanpa wujud. Ah, seharusnya sejak tadi aku memperkenalkan diri pada mereka.

”Ehem… namaku nurani, atau….”

Aku masih berusaha memikirkan beberapa nama lain, ketika sebuah suara yang akrab denganku sejak kelahirannya, menyergah. ”Ssst… jangan berisik!”

Mengingatkanku akan prosesi yang sebentar lagi dimulai.

Diambil dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama “Suami Impian” yang diterbitkan oleh PT. Lingkar Pena Kreativa, Cetakan kedua, April 2006. Dapatkan bukunya dan simak cerita-cerita keren dari Asma Nadia, Birulaut, Ifa Avianty, Sakti Wibowo, dll.


Februari 26, 2007 - Ditulis oleh antosamudra | pernikahan | | & Komentar

& Komentar »

  1. lucu deh ceritanya, bagus kok, gue bgt dech…

    Komentar oleh dee | Mei 25, 2007 | Balas

  2. heeh lucu,seru aja bacanya
    gue juga punya suami impian
    tp kayaknya gak gitu kaleeeee
    standart aja kokk
    hehehe

    Komentar oleh popi | Februari 10, 2008 | Balas

  3. Aq seneng x baca critanya…….
    blajar dimana
    bisa ngarang sebagus niiii

    Komentar oleh aldy | Februari 19, 2008 | Balas

  4. iya aku juga punya suami impian, baik dan soleh yang paling utama.

    Komentar oleh amanah | Maret 25, 2008 | Balas


  5. critanya aq pengen punya suami idaman jg nich…

    Komentar oleh perycantiq | Maret 25, 2008 | Balas

  6. btw boleh donk copy critanya…
    makasi…
    lam kenal….
    perycantiq.wordpress.com

    YM: karina_perycantiq

    Komentar oleh perycantiq | Maret 25, 2008 | Balas

  7. no komen la…………

    Komentar oleh waheeda | Maret 27, 2008 | Balas

  8. I Like this story…..
    Ceritanya menarik banget n’ bagus untuk dibaca buat sobat2 muslimah yang mo cari jodoh neh….

    Komentar oleh Riyadush | Juni 11, 2008 | Balas

  9. aku nggak punya suami impian…

    tapi aku punya isteri impian…

    hihihi.. bukan promosi lhoo…

    Komentar oleh Muslim Dewata | Juli 3, 2008 | Balas

  10. aku juga punya suami impian yang telah kudapatkan… iloveyouhoney….

    Komentar oleh eka | Juli 17, 2008 | Balas

  11. bagus sekaaaaleeee,,, biar panjang tapi menyentuh
    itulah NURANI yang datangnya dari Allah SWT. semoga saya bisa mengikutinya bukan dari syetan

    Komentar oleh masdar | Agustus 2, 2008 | Balas

  12. yang aku impikan mungkin sudah dipersiapkan oleh TUHAN,
    dan aku yakin suatu saat nanti aku akan bertemu dengan nya,
    aku yakin dia juga menungguku,
    entah dimana,siapa ataupun bagaimana dia aku akn tetap menerimanya apa adanya karena dia memang tercipta untukku,
    aku tak perlu khawatir untuk itu,
    karena apa yang telah DIA buat aku pasti adalah yang terbaik buat aku,,,,
    jangan pernah khawatir dengan suami ataupun istri impian yakinlah dunia itu milikmu,,,,
    percayalah akan kau dapat yang terbaik untukmu,jika kau jaga tau apa yang sebenarnya kau butuhkan untuk hidupmu,,,,,,

    cemaraangguni.mara@yahoo.com

    Komentar oleh cemara angguni | Agustus 15, 2008 | Balas

  13. seru and lucu bangt deh ceritanya,,,,
    jadi pengen nih punya suami idaman ….
    tapi ntar-ntar az deh, coz gue masih bingung mo suami idaman yang kayakap zaaaaaaaaaaa??????????????????

    Komentar oleh ayu | Agustus 22, 2008 | Balas

  14. Ntah sudah brapa tahun yg lalu aku simpan rasa cintaku kepadamu budyku.Lebih dari 8tahun sudah aku terluka karena mencintaimu,mencintai dirimu yg sudah tidak sendiri lagi.Begitu kuat cinta dalm hatiku dn begitu kuat pula aku ingin memilikinya.Budy kamu telah membuat hariku terpuruk dan bahkan terluka berkepanjangan sampai sekarang.Stiap hari aku mencarimu,dan harus aku merasa kecewa karna sikap angkuhmu.Kamu bilang kamu mencintai aku dan bahkan akulah yang terindah dihidupmu.Tahun demi tahun aku lalui penuh dengan pengharapan.Dan disitu jg akhirnya aku telah masuk cinta terlarang,aku lalui hari hariku bersamamu.Senang sekaligus kesedihan yg teramat,kenyataan yg teramat sakit aku rasakn budyku,smakin hari rasa cintaku smakin tumbuh kuat bahkan aku benar2 tidak bisa melepaskanmu.Aku abaikan smua cinta yg mencoba masuk kedalam kehidupanku dan hidup dan hatiku sekarang benar2 aku serahkan padamu.Seperti tidak tau akan dosa aku terus saja menikmati percintaanku dengan budy.Bahkan dia teramat sayang dan smakin mencurahkan cintanya padaku.Aku smain terlena buaian dosa dan aku tidak perduli ada seorang yuni yg memilikimu.Berkali sudah hubungan kita diketahui yuni,bahkan kita tetap nekat.Yang jadi masalah sekarang 4 tahun lalu aku memutuskan untuk menikah dengan agus yg baru aku kenal 2 minggu.Tragis memang,ku tak tahu apa yg ada dipikiranku saat itu,begitu mudahnya aku memutuskan untuk menikah smentara hati dan cintaku tetap untuk budy.Pertengkaran demi pertengkaran slalu mewarnai rumahtanggaku.Bagaimana tidak terlalu sadis aku menjalani hidupku.Suamiku yang teramat menyayangiku dengan begitunya aku lukai.Bahkan berulang kali dia mengetahui sendiri hibunganku dengan budy.Berulangkali aku pisah ranjang dengan suamiku karna dia merasa aku khianati.Sempat pula aku punya rumah kontrakan dengan suamiku,belum genap 4 bulan aku hidup dikontraan aku kembaki berselingkuh dengan buby.Hari hariku aku habiskan bersama budy tanpa peduli perasaan suamiku lagi,agus adalah suami yg sabar berkali kali dia memaafkan aku dan berkali itu juga perselingkuhan ini tak bisa berakhir.Budy justru smakin kuat berada dihatiku dan bahkan dia mau menjadikanku istri ke2.Benar2 gila,ya cintaku setinggi gunung yang telah memporak porandakan rumahtanggaku.Budy slalu menganggapku sebagai istrinya dia panggil aku “mah dan juga sayang”,begitu juga sebelum aku punya suamipun aku telah memangginya dengan “papa dan sayang”.Budy slalu marah2 kalo aku tidak nuruit sama dia,dan bahkan sosok seorang ‘AGUS’ yg menjadi suamikupun posisinya dihatiku telah terkalahkan oleh budy.Budy betul2 telah menguasai hati dan hidupku.Berkali caci maki yuni pun aku terima dengan lapang.Dalam keadaan aku bersuami, aku tetap berharap akan bisa hidup dan menjadi istri budy seutuhnya.Ya Tuhan ampuni aku yg berlumur dosa,sebuah pilihan yg dilematis harus aku pilih,aku sebenarnya tidak tega melepas agus karna dia teramat menyayangiku tapi aku harus melakukannya karna aku tidak mau terlalu lama melukai perasaan dan hati agus.Biarlah agus pergi meninggalkan aku dan mendapat penggatiku yg lebih baik,karna kenyaan ini terlalu pahit untuk agus.Dan suatu ketika karna kecerobohan budy keika aku telpon dia,dia lupa menghapus memory panggilan masuk.Yuni marah dan dia bilang,”Mau kamu sebenarnya apa?kamu menggaggu keluargaku lagi” Dan yuni pengen ketemu aku,aku sanggupi asal ada agu dn juga budy,dan tidak pernah aku sangka malam itu budy benar2 membuktikan kesungguhan hatinya untuk menjadikan aku sbg istrinya,betapa hancurnya hati seorang agus waktu itu.Budy bilang dia benar2 mau memperistri aku.Akhirnya aku belum bisa menjawabnya walau dalam hatikecilku sangat mengiyakan permintaan budy.Tapi aku kasiahan sama agus,malam itu dia betul2 hancur dan sampai dirumah dia hanya diam membisu.Keesokan harinya agus memilih pergi dari rumahku.Sampai beberapa hari smsnya slalu memohon padaku untuk mrengurungkan niatku merit sama budy,akhirnya aku memutuskan untuk hidup sendiri dan membesarkan anaku,tp justru budy memintaku untuk sms agus dan memintanya pulang demi dyto anakku.Aku sms agus dan dia mau pulang,tp belun genap 10 hari agus berada dirumahku dia kembali pergi sampi sekarang tek ada kabr dari dia karna dia bilang”kenyataan ini terlalu pahi buat aku,aku bukan orang yg km cintai buat apa aku tetap bertahan disini.Tepat jam 11 malem dia pergi dari rumah.Kenapa aku tidak merasa kehilangan agus sama sekali,bahkan harapanku untuk hidup bersama budy smakin ada,aku terus sajA komunikasi sama buby telfon dan sms tidak pernah tidak aku lakukan.Karna memang betul budylah cinta disepanjang hidupku,dia adlah hidupku dan aku sangat mencintai diaSurat nikahpun telah dibawa agus dan aku sekarang tinggal menunggu keputusan cerai dari agus.Agus,maafkan atas smua perlakuanku atas kamu,akan kujaga anak kita baik2.Dan biarkan akumemilih seorang budy yang menjadi cinta disepanjang hidupku.Maafkan smua salah dan dosaku agus,aku telah berjanji betul2 dalam hatiku aku kan menjadi istri yg baik dan setia untuk budy.Relakan aku untuk memilih budy karna budy adalah cintaku selama ini…Biar aku tidak terjebak dalam perselingkuhan ini danbiarkan aku menata hidupku bersama budy..Maafkan aku agus.Maafkan aku..Aku berjanji menjadimanusia yg lebih baik lg dan aku akan bertobat.Ya allah ampuni segala dosa2ku dan biarkan aku bahagia bersama budy.

    Komentar oleh dyah iskandar | September 5, 2008 | Balas

    • sungguh perjalanan hidup yang sulit dimengerti dan aku tahu tak mudah juga untuk dijalani dilematis bisa dibilang juga tragis kalu aku yang mengalami itu aku sendiri ga tau apa yang harus aku lakukan.

      Komentar oleh ana | September 16, 2009 | Balas

  15. ceritanya bagus,kapan ya, Allah memberikan jodoh yang baik buatqu

    Komentar oleh zahra | Oktober 29, 2008 | Balas

  16. assalamualaikum,
    Buat semua akhwat……
    carilah suami yang sholeh….
    namun bagaimana dia?
    tentu agamanya baik, tanggung jawab, bisa menjaga dirinya dan kelauarganya, apa lagi?
    tentu banyak….Namun cermin agama merupakan hal yang mutlak…
    Satu hal lagi sebagai tanda…….
    CARI LAKI – LAKI YANG BISA MENGHORMATI DAN MEMULYAKAN WANITA…karena dia sadar, bahwa laki2 tersebut lahir dari rahaim wanita…
    wassalam

    Komentar oleh B41M | Desember 13, 2008 | Balas

    • Semua wanita pasti menginginkan kriteria lelaki seperti itu untuk menjadi pendamping hidupnya tapi di jaman sekarang gak bisa dipungkiri sangat sulit mencari yang seperti itu.

      Komentar oleh ana | September 16, 2009 | Balas

  17. buat temen2 yang mau berbagi, sharing agama
    bisa email ke kami hijjatun_naim@yahoo.com
    kan lebih baik masalah dipecahkan banyak orang….
    betul kawan
    “WA SYAAWIRHUM FIY KULLIY AMRIN”
    dan musyawarahlah untuk semua urusan
    wassalam

    Komentar oleh B41M | Desember 13, 2008 | Balas

  18. Cerita ini smskin memantapkan hatiQ utk memilih jalan ini.
    memantapkan hatiQ lkalo menunggu seseorang yang blm pasti itu g salah…
    tapi sebuah impian yang suatu saat memang bakalan terwujud.
    Q sdari itu,so qQ emang udah mantap tuk MELUPAKAN dy meski saat ni hanya dy yang mampu membuat Q ngerasain rasa ini….
    Q akan mencvoba untuk lebih memantapkan hatiQ utk menunggu JODOH terindah dari ALLAh SWT…
    Seseorang yang dengan tulus benar2 mencintaiQ karena ALLAH SWT…
    I wish smuanya bisa menjadi kenyataan…
    Bantu doa ya smuanya yang baca……

    Komentar oleh me_dhycK-A | Desember 16, 2008 | Balas

    • Ya semoga dapat jodoh terbaik yaa!

      Komentar oleh ana | September 16, 2009 | Balas

  19. after reading this story i more undrstan about find of love,trnyta mncintai ssorang krna Allah itu tdklah mdah.whai ikhwan dn akhwat dmnpun klian brada janganlah trtipu olh cnta palsu.

    Komentar oleh anisa | Februari 5, 2009 | Balas

  20. bagus.menarik.ya mang mencari pasanghan hidup itu sulit.tp percayalah pasti qta akan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik bwt qta.ketika nurani bicara dan pertanda itu ada
    good luck

    Komentar oleh Daniee | Maret 20, 2009 | Balas

    • Ya aku sangat setuju karena aku juga merasa sangat sulit mendapatkan seseorang yang disetujui benar-benar klik dengan hati.

      Komentar oleh ana | September 16, 2009 | Balas

  21. Assalamualaikum…. Setiap Wanita pasti memiliki suami impian… Tetapi untuk ku suami sempurna hanyalah amala yg telah qu lakukan & senantiasa mndampingiku.

    Komentar oleh Fitri Azzahra | April 9, 2009 | Balas

  22. suami impian, . . . .syaratnya ruar biasa… he he … tapi apresiasi saya sangat good,… ceritanya sulut ditebak, hingga hrs membacanya hingga usai… salam kenal asma nadia…. tulisannya bisa di lanjutin untuk episode lain, jgn lupamkasih tembusan ke emailku…dhidhin@rocketmail.com…ok..sy tunggu. thks

    Komentar oleh didin lamusu boalemo | Mei 25, 2009 | Balas

  23. T.O.P.B.G.T

    Komentar oleh Tatank | Agustus 24, 2009 | Balas

  24. Ceritanya hampir sama dengan perjalanan kisahku aku sendiri masih bingung lelaki seperti apa yang aku dambakan padahal engga ada kriteria khusus untuk menjadi pendampingku udah beberapa lelaki ku tolak bukan maksud menolak anugrah-Nya tapi hati ini kok rasanya selalu bilang “TIDAK” kadang aku merasa sedih sendiri kenapa aku seperti itu tapi sungguh aku gak sanggup menolak kata hatiku tapi kali ini Insya Allah aku telah menemukan seseorang yang “disetujui hatiku” dan semoga dia adalah memang jodohku. Amiin.

    Komentar oleh ana | September 16, 2009 | Balas

  25. tuh kan bener yang mengajak bicara nirina dari awal sampai akhir cerita bukan temen`a nirina tapi hati nurani`a nirina sendiri pantesan aku bingung ko hebat amat temen`a nirina bisa tau apa yg dipikirkan nirina
    ya ialah jawaban`a tentu saja karna akal pikiran dan hati nurani adalah sahabat sejati jadi mereka saling mengerti seperti anak kembar yang berada di satu rahim gitu

    Komentar oleh Amelia Az-Zahra | September 18, 2009 | Balas

  26. cerita itu indah tapi lebih indah lagi bila ceita itu didapat dicernah oleh akal dan impian bagi orang yang merasakan bila sedang kasmaran gitu lho . mas

    Komentar oleh dafar | September 25, 2009 | Balas

  27. aku pernah mengalami saat itu cinta pertamaku di smu , tapi tidak semua apa yang inginkan dalam perasaan itu aku di sayang dan dicintai , gitu ya

    Komentar oleh dafar | September 25, 2009 | Balas

  28. to tweet
    nice story dah..!!
    te o pe

    Komentar oleh unan | Oktober 8, 2009 | Balas

  29. lucu….

    Komentar oleh raden | Oktober 19, 2009 | Balas

  30. aq ingin bertanya,sebenarnya ap sech cinta itu??? dan mengapa ia slalu menyiksa batin manusia…. apakah cinta yang tulus itu benar2 ada????

    Komentar oleh refhy mailandhy | Desember 21, 2009 | Balas

  31. oh….jd gt ceritax aq br ngeh stelah selesai ngebaca smpi endingx…

    Komentar oleh chaca | Januari 23, 2010 | Balas

  32. assalamualaikum aku juga pernah mengalami
    seperti itu ketika aku serius untuk menyayangi
    kemudian dia tak pernah menjawab ketika ku bertanya
    padanya selang waktu kemudian hari ternyata
    dia berpaling kepada yang lain…berarti
    cinta untuk menyayangi jodoh bisa memilih
    namun ALLAH adalah sebagai penunjuk AMIN

    Komentar oleh budi | Maret 2, 2010 | Balas


Tinggalkan komentar