Cerita Cinta

ingin selalu mencintai dan dicintai karena-Nya

Calon Buat Ajeng

Penulis : Asma Nadia

 

 

Calon Suami???!

Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.

Huhh, dasar kembar!

***

”Ajeng…!”

Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….

Benar saja.

“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

”Boy, Tante!”

”Eh, iya. Boi!”

Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.

Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!

***

Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.

”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!”

Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”

Lemparan bantalku kembali melayang.

***

Kriiiiing…!!!

Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.

Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….

Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

***

Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

”Junaedi. Panggil aja Juned!”

Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.

Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!

Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.

Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.”

Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.”

Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!

Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

***

Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

Duhh, Mami!

Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.

Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.

Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.

Gantian aku yang bingung.

”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”

Aku tambah melongo.

”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”

Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar.

Tampak Saleh manggut-manggut.

”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”

Tawa Rani meledak.

Duhhh, Mami!!!

***

Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

***

Kesibukanku menulis diary terhenti.

”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.

Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.

Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

Kepada Calon Suamiku….

Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.

Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.

Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

Calon suamiku….

Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

Calon suamiku….

Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!

Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

Wassalam,

Adinda

NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

”Syahril… Nama saya Syahril.”

Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

”Ajeng…!”

Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.

Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?”

Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”

Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

“Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”

Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.

Aku masih terpana.

Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???

* Pemenang Harapan I LMCPI Annida.

Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415 H/1994 M

About these ads

April 12, 2007 - Posted by | pernikahan

100 Komentar »

  1. teu ngarti ah

    Komentar oleh agung | Juli 15, 2007 | Balas

    • tuh kan bingung nyari jodoh, padahal jodoh itu kewajiban pimpinan. lihat saja zaman Rosul dulu, sebgmn firman Alloh,
      ” Nikahkanlah orang2 yg sendirian di antara kamu! ”
      itu adl kewajiban Pem Islam.
      Salah sendiri g punya Pem Islam
      makanya Kholifah itu wajib

      Komentar oleh ahmad | Desember 9, 2009 | Balas

  2. subhanallah
    beneran kok ga perlu bingung n bete menghadapi jodoh ga kunjung datang
    semua ada saatnya
    beneran sikap positif tu bpenting banget
    meski kadang ga mudah

    Komentar oleh el_syifa | Juli 31, 2007 | Balas

  3. Namaku juga Ajeng, semoga Allah memberi kesempatan aku seperti Ajeng yang ini. Amin,,,

    Komentar oleh thre | Agustus 10, 2007 | Balas

    • “Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

      Komentar oleh akn | Agustus 5, 2010 | Balas

  4. akhirnya gimana dunk?

    Komentar oleh korea_hana | November 12, 2007 | Balas

  5. jangan terlalu mengulur waktu, nanti keburu tua walaupun jodoh itu akan datang juga, tapi ngga ada slahnya klo memberikan kriteria yang kmu suka/mau usaha orang tua itu harus dihormati,karna mereka hanya ingin yg terbaik buat kmu

    Komentar oleh olinda cardoso | Januari 14, 2008 | Balas

  6. ajeeng kamu agamis banget sih I LIKE IT! gw pengen deh kaya lo tapi ko kayanya dijaman sekarang ini susah ya? apa lagi kehidupan jakarta oh my god…

    Komentar oleh izoem | Januari 25, 2008 | Balas

  7. Hayo, temen2Q d Al Jannah Center teruslah berjuang!

    Komentar oleh Hartanto | Februari 17, 2008 | Balas

  8. salut deh

    Komentar oleh indramgl | Februari 29, 2008 | Balas

  9. 1+1= allah terserah prasangka hamba.
    X*Y= bila meleset, prasangka hamba tak sebaik, setulus, seikhlas yg allah minta.(masih pantaskah kecewa?)

    Komentar oleh Azer | Maret 15, 2008 | Balas

  10. Subhanallaah. Alhamdulillah.
    Insya Allah, abiz lebaran saya mau meng-khitbah dia…

    Komentar oleh asud | Mei 2, 2008 | Balas

  11. Jodoh itu mencari?, apa menunggu?

    Komentar oleh Dedeawan | Mei 8, 2008 | Balas

    • kalo, laki cari lah.. kalo akhwatnya lebih baik menunggu :D

      Komentar oleh berita komputer | Oktober 20, 2009 | Balas

  12. aku juga lum dapat pendamping hidup smpai sekarang kisahku sam seperti ajeng…mudah2 han aku dapt pendamping yang baik n setia amin

    Komentar oleh ina | Mei 16, 2008 | Balas

  13. SABAR……
    IKHLAS……… DAN
    TAWAKAL………..
    JODOH ALLAH YANG NGATUR……….
    masukan buat INA ……. serahkan semuanya pada ALLAH…..
    Wass.

    Komentar oleh OKEL | Mei 31, 2008 | Balas

  14. Bagus deh cerita ini, bisa memberi pengharapan bahawa ada juga jodoh yang datang di muka pintu :)

    Komentar oleh Chien | Juni 22, 2008 | Balas

  15. itu kan cerit…kenyataanya susah banget ngejalanin

    Komentar oleh dhe_aja | Juni 29, 2008 | Balas

  16. pacaran dooong,
    ok… critanya muantep,. puisinya jga lumayan,
    apalagi cara penulisannya…,
    singkat, berisi, padat, tinggi: 165, berat: 46, rambut panjang, putih…!

    Komentar oleh wong | Juni 29, 2008 | Balas

  17. critanya ok bangdets. pilih jodoh yang bagus akhlak dan agamanya

    Komentar oleh di_@n | Juli 6, 2008 | Balas

  18. pacaran itu haram hukumnya!! mending yang Islami bahagia dunia dan akhirat. Insya Alloh.

    Komentar oleh faqih | Juli 6, 2008 | Balas

  19. Wah bagus bener tuh ceritanya, ajeng …tetap semanagt ya..moga berjodoh dgn syahrill…

    Komentar oleh lili | Juli 7, 2008 | Balas

  20. maksudnya apa ya , endingnya membingungkan *lemot mode on* hehee

    Komentar oleh Prib | Juli 9, 2008 | Balas

  21. segera nikah lah Ajeng, biar bisa crot-crot an klo malem hari. Ennaak lho Jeng.

    Komentar oleh sukoco anake nganggur | Agustus 23, 2008 | Balas

  22. jodoh..? tak penah tau kpn ia akan datang bisa cepat ato lambaat yg pasti yakinlah allah pasti memberikan jodoh, kenikmatan lebiih untuk umatnya. kuncinya bersabar,ikhlas dan bersedekahlah..

    semoga jodohku cepat terwujudkan dg pilihan terbaikmu ya allah..amiin (dibulan ramadhan yg penuH berkah berikanlah keajaiban & anugerah seumur hidupku dg pendamping hidup selamanya.

    Komentar oleh vivit | September 22, 2008 | Balas

  23. aku tak pernah dapatkan jodoh yang bisa terima aku apa adanya, aku berharap ada yang mau dengan aku dengan terima aku apa adanya,lo mau dngan ak hubungi 085729038014,hahahahahah
    lo mau liat ak liat ja di fs aku, priya_paingan@yahoo.co.id.
    gak kok cm iseng,tp keren kok suer

    Komentar oleh pria | Oktober 6, 2008 | Balas

  24. hmm…aku suka sama cerita ini,,,,jodoh, umur, semua ditangan Alloh,,,dan aku percaya,,,untuk kisah hidupku sendiri ,,,aku juga belum pernah pacaran,,,dengan usia 19 tahun ,,,,dan dikelilingi teman2 yang sudah berstatus jomblo juga,,,jomblo setengah,,,jomblo pengangguran,,,ampe janda2…kadang iri seh,,tapi it kan manusiawi bgt,,,yak kan,,,pokoknya aku cuma berdoa mudah2an aku langsung dijodohkan dengan seseorang yang sempurna dimataku dan dimata Alloh untuku,,,pokoknya Ya Alloh jodohkan lah aku yang menurutMu baik untukku,,,amin,,,muach,,,pokoke bagus dweh ceritanya…..salutte,,,

    Komentar oleh ajeng | Oktober 29, 2008 | Balas

  25. jodohQ entah kmn,,, tauuuukk,,,
    beRharap dapatkan yang terbaik,,,,

    Komentar oleh eL_ | Oktober 29, 2008 | Balas

  26. gimana y???? bgus seh tapi kayaknya ada sesuatu yang kurang deh….

    Komentar oleh tha | November 7, 2008 | Balas

  27. bagus seeh, tapi kayak ada sesuatu yang kurang deeeh…

    Komentar oleh tha | November 7, 2008 | Balas

  28. Subhanaallah cerita yg Bagus sekali….’
    cerita ini jg pernah saya alami…

    Komentar oleh danilah | November 7, 2008 | Balas

  29. wew, awak belum kawin juga ni, umur uda hampir 30.. hahaha.. lama menjomblo…

    Komentar oleh ajank | November 7, 2008 | Balas

  30. Bagus,sabar dalam memilih jodoh… Tapi kalo ada orang yg paham ttg kitab 2 islam spt riyadus shalihin,ahdabul ahkam,bulughul mahram dan membahas masalah masalah fikh tata cara shalat,wudhu,puasa dan laennya.mengerti dalil dan pbedaannya.jelas itu bukan masalah kecil.ini masalah besar bgaimana ia tahu tata cara beribadah kpd tuhannya.ia mengerti dgn segenap ilmu tata cara ibadah diantara bnyak khilaf d kalangan umat.apalagi jika ia bisa menjelaskan pd umat apa yg ia ketahui.maka menurut sy saudara sy ini jauh lbih baik drpd kita mmbahas masalah bosnia,iraq,atau afganistan tanpa ilmu mumpuni dlm islam.ini hnya pendapat. Wallahualam.

    Komentar oleh Ahmad Mubarok | Desember 25, 2008 | Balas

  31. wah….crita x bgs bgt…..
    slm knl smua ya…

    Komentar oleh nur azizah | Desember 29, 2008 | Balas

  32. ceritanya menarik buangets! aku suka

    Komentar oleh Lia | Januari 7, 2009 | Balas

  33. yampun yampun..cerita inii..
    aku copy yah doany..

    Komentar oleh Indah Parmalia | Januari 18, 2009 | Balas

  34. crita yg kmu buat bagus2,,,,
    aq suka bgd dgn artikel yg kmu buat,,,

    bisa ajari aq buat artikel yg bagus gak???
    thkz,,,,,

    Komentar oleh rickytri | Januari 23, 2009 | Balas

  35. tawakal dan berdo’a kepada Allah adalah kunci dari hidup kita, sudah lama ku tunggu lelaki seperti Syahril, yang datang sekarang mungkin adalah ujian buatku, dia memang ganteng, baik, dan bisa terima aku apa adanya…. tapi, masa lalunya yang kelam sangat tidak bisa aku terima, berat rasanya menerima dia dengan masa lalunya itu, tolong aku yaaa Allah….. terus terang harapanku sudah terlalu besar padanya, tapi hatiku tidak bisa terima….

    Komentar oleh febrey | Februari 25, 2009 | Balas

    • toek febrey,
      lam kenal ya,
      story kita sepertinya ada kemiripan,
      semoga bisa sharing ya

      Komentar oleh fitri | Maret 8, 2010 | Balas

  36. Wah ceritanya bagus.. izin mengkopi ya.. buat koleksi..
    hehehe.. ^_^

    Komentar oleh hikeholic | Maret 13, 2009 | Balas

  37. Assalamualaikum semua……
    ceritanya bagus, semoga bernilai ibadah!
    thank! wassalam,..

    Komentar oleh Udji | Maret 26, 2009 | Balas

  38. Subhanalloh, sungguh aku terkesima dengan cerita ini. Di akhir tulisan aku merinding dan hampir menangis terharu. Memang benar jika kita sabar,ikhlas,tawakal kita akan mendapatkan sesuatu yg lebih baik dari apa yg kita inginkan. Orang yg baik akan mendapatkan orang yang baik…. insya allah…. Semoga kita semua termasuk orang2 yg beruntung…. amin.

    Komentar oleh mifta | April 17, 2009 | Balas

  39. cerita ni bagus banget…
    dalam kehidupan nyatapun ada kisah seperti ini.

    Komentar oleh vhy | April 18, 2009 | Balas

  40. bagus banget

    Komentar oleh annisa | April 30, 2009 | Balas

  41. Ukh. . .
    Jd pNasaRan eUy jdOh qUh teH ciApA??

    Mo tmNan ma naK bgr ? _21_
    http://Www.ladank_bgr@yahoo.com

    Komentar oleh LayLa | Mei 3, 2009 | Balas

  42. jodoh adalah cermin dari diri qta, kalau qta baik Insya Alloh jodoh qta baik juga dan begitu juga sebaliknya.

    Komentar oleh arie | Juli 17, 2009 | Balas

  43. [...] July 22, 2009 at 11:30 am (Islami) Tags: annida, asma nadia, calon buat ajeng, cerpen islami, Forum Lingkar Pena, kisah [...]

    Ping balik oleh Calon Buat Ajeng « Priendah Weblog | Juli 22, 2009 | Balas

  44. hhmm….nice…
    saya copy yah.. buat di post di blog sia. Makacii…

    Komentar oleh irish | Juli 24, 2009 | Balas

  45. kalo yang ini pengalaman pribadi bukan?

    Komentar oleh puisi cinta | Agustus 19, 2009 | Balas

  46. Saya terharu dengan cerita ini, coz ini juga yang sekarang saya hadapi. bingung tentang jodoh?
    Dengan membaca cerita ini, saya kembali optimis bahwa hidup harus tetap dilanjutkan dan namanya jodoh Allah dah atur semua. tinggal kita jalanin ja.

    Komentar oleh Eneng Nurlela | September 11, 2009 | Balas

  47. subhanallah
    mencari jodoh tidak semudah mengedipkan mata
    Dialah yang memilikinya
    kapannya juga urusan Dia
    bersabarlah
    karena JODOH juga bagian dari ujianNya

    Komentar oleh Nay | September 14, 2009 | Balas

  48. Nak Ajeng,

    Pilih atau cari jodoh memang gampang-gampang sukar, tetapi yang pasti tetap ada peluang dan harapan. Jalani saja kehidupan ini dengan tenang saja bagaikan air mengalir. Pada suatu waktu pasti ketemu yang dicita… dan bergetarlah hati. Getaran inilah mungkin sebagai isyarat Allah Ta’alla untuk awal menindak lanjuti. Akan tetapi jangan keburu-buru, tetap saja tenang. Kalau perlu berdoa kepada Allah SWT untuk menda- patkan petunjuk….. baru menentukan keputusan. Saya ikut berdoa.

    Komentar oleh Ahmad Soenaryo | September 20, 2009 | Balas

  49. wahh..
    panas dingin awa membaca cerita ini .
    so COOL !

    Komentar oleh putt | September 26, 2009 | Balas

  50. ass…
    wah,saya juga sdh 25th, tp belum ketmu jodoh, mgkn memang blm saatnya yah..

    Komentar oleh ciecie | Oktober 5, 2009 | Balas

  51. keren abiz dech ceritanya…
    berjuang untuk mendapatkan yang terbaik
    success always

    Komentar oleh astri | Oktober 14, 2009 | Balas

  52. usiaku juga telah 29 menuju 30 tahun, seperti ajeng aku juga suka meperhatikan wajahku dicermin dan rona merah itu sudah mulai hilang, semoga segera kutemukan imam ku secepatnya untuk berjihad bersama amin…….

    Komentar oleh LINDAWATI | Oktober 16, 2009 | Balas

    • bawa santai aja mba terus bartawakal minta yang terbaik sama allah swt, sebelum dapet jodoh jalanin aja karir’a biar tambah bagus, jadi suatu saat nanti kalo udah nikah ga ketergantungan sama suami . . .

      Komentar oleh zha | Maret 18, 2010 | Balas

  53. endingnya gimana nih….

    Komentar oleh raden | Oktober 19, 2009 | Balas

  54. bagus bgt ceritanya,nyata ya,,,
    q mpe nangis
    hampir sama kayak kisah ku

    Komentar oleh lia | November 11, 2009 | Balas

  55. Salam Berat kawan

    Komentar oleh Toko buku online | November 17, 2009 | Balas

  56. kurang lebihnya cerita ini hampir sama dengan kehidupan ku yang sekarang,ku terharu banget ma ceritanya?

    Komentar oleh lia | November 24, 2009 | Balas

  57. wah cerita nya kepanjangan keburu ngantuk baca nya….
    maav ya…

    Komentar oleh inggit | Desember 9, 2009 | Balas

  58. sabar n postif thinking
    selalu……
    patut d contoh

    Komentar oleh aLiiii | Desember 29, 2009 | Balas

  59. subhanallah…
    jd pengen nikah..
    hheheh

    Komentar oleh na | Januari 13, 2010 | Balas

  60. Bagus…namun bukankah perlu istikharah dulu…tapi ini baguussss banget.

    Komentar oleh lestari | Januari 24, 2010 | Balas

  61. Ngga sengaja nemu blog ini.he..he.. Btw, tahun ini usiaku 30 tahun. Sama seperti cerpen di atas. Smoga thn ini menjadi akhir penantian panjangku dan bermuara pada kebahagiaan.

    Komentar oleh cici | Januari 29, 2010 | Balas

    • jangan takut m’cici setip manusia itu punya jodoh’a masing2 tapi dateng’a ada yang deket ada yang lama . . .
      aku doa’in biar tahun ini dapet jodoh dan langeng sampai maut memisahkan, tapi kalo mau maried undang2 dung . . .

      Komentar oleh zha | Maret 18, 2010 | Balas

  62. Subhanalloh… ya Alloh… jadi ingin menikah ^_^… tapi sama kaya cerita diatas… belum ada calonnya… semoga tahun ini menjadi akhir penantian ini…

    Komentar oleh dian | Februari 3, 2010 | Balas

    • amin aku doain deh biar cepet dapet jodoh . . .
      jangan kaya ajeng lama dapet jodoh’a . . .

      Komentar oleh zha | Maret 18, 2010 | Balas

  63. Cerita yang inspiratif-Jazakillah ukh-

    Komentar oleh dyan ayu | Februari 5, 2010 | Balas

  64. kalau ternyata orang yang kita percaya sebagai jodoh kita,
    mengkhianati kita dengan berselingkuh, haruskah kita menerimanya kembali, karena ternyata, hati kita masih mencintainya, dan berharap bisa berjihad bersamanya.
    ada yg bisa kasih input…
    syukron..

    Komentar oleh fitri | Maret 8, 2010 | Balas

    • Hhmmm.. itu kembali kepada prinsip masing”
      jika hati masih sangat mencintai dan menyayangi..mengapa harus membohongi rasa yang ada???
      tapi sebelum meng”iya”kan kamu harus meneliti lebih jauh,,jangan sampai kamu terjatuh pada lubang yang sama dengan kesalahan yang sama pula.

      Komentar oleh Dhedhe | Februari 23, 2011 | Balas

  65. ceritanya berebelit” . .
    bikin pala gw pusing , ,
    saran buat cerpen yang nyata dund,
    jadi abuat pelajaran,
    bagi sh pembacanya .

    Komentar oleh zha | Maret 13, 2010 | Balas

  66. aq mencintai seseorank ..
    nmanya panji satria ..
    pii aq ga pernah tw ap dy bnr” mencintai qu ..
    tngl 11 february aq jadian ..
    pii tngal 28 maret aq putuzZ ..
    cm gara” aq tnya “jie sbernya qm chayank ga cie ma aq ..?”
    dy lngsung mrah ..
    alasannya bnr” ga msuk akal ..
    aq fikir ga ad salahnya seorang pacar menanyakan hal semacam itu ..
    bru sebulan aq menjalai tali kasih sayank ..
    dan secepat itu aq berakhir ..
    jujur aq mcih chayank bnget ma dy ..
    dan sekarank aq lgi pusing bnet cz dy bnr” menjauhi aq ..
    aq ga snggup lgi ..
    smpai” aq mengeluarkan air mata ..
    aq bingung haruz bagai mna lgi ..
    aq fkir mngkin dngn bunuh diri bsa menghapuz semuanya ..
    pii aq hruzZ ingat kedepannya ..
    dosa qu msih banyak ..
    dan aq pun blm membahagia kan orank” yg aq chayank ..
    aq chayank panji …

    Komentar oleh indah_shary | Maret 30, 2010 | Balas

  67. ceritanya membuat terharu bgt..
    apa bisa tidak ya saya seperti “ajeng”??
    semoga..

    Komentar oleh zhi | September 9, 2010 | Balas

  68. Ya ALLAH. . . .
    masih ada juga gadis yang punya kesabaran tinggi seperti mba. .
    saya sangat kagum. . .

    saya sendiri baru berusia 20 tahun tapi sudah tergesa-gesa mencari calon suami,padahal kalau ditelisik lebih jauh,kuliah saya belum rampung,karier saya juga masih jauh dari kata sukses!
    Ya ALLAH,,jadikanlah saya seperti mba ajeng..amien..

    Komentar oleh Dhedhe | Februari 23, 2011 | Balas

  69. jodoh itu udah ada yang ngatur….
    kita cuma bisa berencana dan berusaha……..
    yakinlah dia bakal datang jika tiba waktunya nanti…
    Allah akan mengirmnya langsung kepada kita…..
    tanpa ada yang menghalangi meskipin hanya sehelai daun…………..

    Komentar oleh rida lubis | Februari 27, 2011 | Balas

  70. hmmm … saya juga belum menemukan jodoh .. sudah hampir 28 tahun ..
    asli menitikkan air mata saya membacanya :)
    terharu …

    Komentar oleh pi2t | Maret 11, 2011 | Balas

  71. subahan allah mantap lee ceritanya neee

    sampai merinding gw yg baca……
    toopss,,,,, manntapss…..

    Komentar oleh cilan comunity afenged | April 19, 2011 | Balas

  72. subhanallah samapai segitunya yah cari suami. tapi yang aku ambil himah dari cerita ini adalah cinta yang begitu dalam, apabila seorang lelaki dan perempuan memiliki ilmunya dalam pencarian rah yang seiman makan jodohpun datang dengan keimanan yang dalam

    Komentar oleh radit kurniawan | Agustus 21, 2011 | Balas

  73. [...] Calon Buat Ajeng September 23rd, 2011 | Author: pirates2011 ShareCalon Buat Ajeng [...]

    Ping balik oleh Calon Buat Ajeng | Abstrak | September 23, 2011 | Balas

  74. keren banget ” ^_^

    Komentar oleh ilmhy_cute | Oktober 2, 2011 | Balas

  75. [...] Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this post. [...]

    Ping balik oleh cinta « kaudandia | Oktober 12, 2011 | Balas

  76. bole lah, aq skk bgt ma crta na?

    Komentar oleh nano | Oktober 22, 2011 | Balas

  77. Akhirx gmna?
    Ko crtax ga smpe hbis sich?

    Komentar oleh shanty | November 3, 2011 | Balas

  78. subhanallah..
    indahnya bersabar..

    Komentar oleh maulana | November 20, 2011 | Balas

  79. nikah???
    calon suamiku
    cepat lamar aku :D

    Komentar oleh inong | November 25, 2011 | Balas

  80. subhanallah yah…. bukan penantian maya :)
    insyaAllah penantian para muslimah ngk sia2 dan smoga Allah memudahkan para ikhwah dalam menjemput bidadari syurganya. aamiin…….

    Komentar oleh Nahlah | Desember 2, 2011 | Balas

  81. ya mudahan yg lambt dpt jodoh.cew/cow.dpt sprti yg di inginkan.amin bgs crtnx

    Komentar oleh ratna | Desember 4, 2011 | Balas

  82. aku berharap bisa bersabar n bertawakal seperti ajeng…. n mndapatkan jodoh terbaik mnurut Allah SWT…

    Komentar oleh vina | Desember 17, 2011 | Balas

  83. bersabar adalah kunci yang utama, kalau jodoh tak kemana, kalau bukan jodoh memang bukan yang terbaik bagi kita..

    Komentar oleh andipandora | Desember 22, 2011 | Balas

  84. aq ska bnget ma critanya, memang jodoh sudah ada ditangan Allah. manusia hanya bisa berusaha, tapi Allah pula yang menentukan. karena jodoh, mati rizki sudah ada ditangan Allah.

    Komentar oleh Elly | Desember 23, 2011 | Balas

  85. dulu aku sangat mempercayaimu….
    dan aku juga sangat mencintai dan menyayangimu untuk selamanya ..

    dan dulu kau juga berjanji akan melindungiku dengan kasih sayang mu…
    tapi… apakah ini balasan cinta mu pada ku????
    janji mu adalah janji palsu,,
    yang hanya dapat terucap oleh mulut orang spertimu….

    aku menyesal telah mengenal DIRIMUUU..
    Dan tak akan terulang lagi kisah yang sama..
    mencintaimu tiada arti

    Komentar oleh rian | Januari 1, 2012 | Balas

  86. subehanaallahhhhhh,,,,,,jdi terkesima membacanya,bahwa jodoh itu pasti akan datang dengan ksendirinaaaaa,yg pnting kita tawakal dan berdoa………..

    Komentar oleh Ana Isti | Maret 3, 2012 | Balas

  87. Subhannallah….. merinding baca cerita Ajeng ini, umurnya sama seperti aku 30th, tapi yakin jodohku yang terbaik sudah disiapkan Allah untukku dan akan datang diwaktu yang sudah semestinya… Amin

    Komentar oleh febri | Maret 5, 2012 | Balas

  88. subhanallah,
    dimana yaa kaum adam yg ALLAH pilihkan untukku..knpa dia tdk mencari tulang rusuknya yg bengkok??

    Komentar oleh dika ratna | Mei 28, 2012 | Balas

  89. Jodoh emang gak kemana,tp qt memang patut tuk berusaha

    Komentar oleh Umar Syarif | Agustus 23, 2012 | Balas

  90. padahal umurku baru 20 thn, tpi aku sudah resah dgn jodoh yg tak kunjung datang..aku ingin mendapatkan jodoh seperti sahril,di usiaku sekarang.semoga.Amiin ya Allah.

    Komentar oleh endeh septiani | September 18, 2012 | Balas

  91. “Calon Buat Ajeng Cerita Cinta” really got myself
    simply hooked with ur page! I reallywill certainly wind
    up being back much more normally. Many thanks -Merrill

    Komentar oleh http://bing.com | Februari 16, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: